Monday, November 16, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keempat belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keempat belas

Tahun itu sekolahku memutuskan untuk Valentine’s Day, dibandingkan membuat acara-acara yang melibatkan kartu pengakuan cinta dan bunga mawar, kami dibawa secara setengah paksa untuk bakti sosial di Sekolah Luar Biasa terdekat. Aku tentu saja tidak keberatan, satu-satunya hal yang dapat membuat orang merasa berterima kasih pada keadaannya sekarang adalah dengan berbagi. 

Aksa pulang dari rumah sakit hari itu, dan kau absen untuk menemani Aksa. Alasan semacam itu tidak dipercaya oleh siapapun, karena semua orang juga tahu kau selalu melewatkan acara semacam ini: MOS, Pangandaran.... Aku merasa murid lain tidak terlalu menyukai eksklusifitasmu, namun mereka tampak berhati-hati untuk tidak membicarakan ini ketika ada aku. 

Kalau kau adalah orang yang eksklusif, Ditya adalah kebalikanmu 180 derajat. Bakti sosial SLB itu juga terbuka untuk para alumni, dan satu-satunya orang yang tidak berkumpul untuk merayakan kepulangan Aksa dari rumah sakit adalah kakaknya sendiri. Ditya datang berkunjung dengan mobil sport-nya yang berwarna merah, menimbulkan histeria tertahan dari murid-murid perempuan.



Ketika sore menjelang, acara-acara kaku yang diorkestra sekolah telah selesai. Sebagian langsung pergi tanpa ba-bi-bu, tapi sebagian lain benar-benar tinggal untuk bermain dengan para murid SLB. Lapangan basket mereka yang usang riuh dengan murid-murid laki-laki yang saat itu bermain bersama beberapa anak tuna rungu. Saat itulah terlihat jelas siapa yang benar-benar berminat untuk ‘menyebar kasih’ di SLB itu, dan siapa yang tidak. Ditya memang membawa beberapa tumpuk majalah teknologi yang tersusun rapi untuk disumbangkan, tapi dia jelas tidak sepeduli itu tentang ‘berbagi kasih’.

Segera setelah Ditya melihatku, kami berjalan bersama dan entah bagaimana kami berhenti di bagian belakang sekolah. Ditya bersandar pada tembok sekolah yang penuh dengan retakan, lalu mengeluarkan sekotak rokok dari kantungnya. Bagian belakang sekolah, Ditya, dan rokok, membuat Ditya tertawa dan berkata padaku, “Kayak waktu awal kita kenal.”

Aku hanya mengangkat alis dan melipat tanganku. “Adik lo balik dari rumah sakit dan lo nggak di sana. Jadi gue rasa lo belum baikan sama Aksa?”

 “Cowok nggak baikan. Kita jotos-jotosan, terus setelahnya kita pura-pura nggak pernah ada masalah apa-apa. Problem solving kita lebih simpel daripada cewek.”

“Gara-gara cewek yang lo ketemu di tempat clubbing Jakarta itu?” tanyaku. Hal ini agak menggangguku — karena walaupun aku keputusanku untuk tidak membantu Ditya adalah benar, tapi imbasnya jauh lebih besar daripada yang aku kira.

“Nyesel sekarang, waktu itu nggak bantuin gue? Rein patah hati dan Aksa patah tulang?” Ditya tertawa. Aku benar-benar muram mendengarnya, tapi Ditya menepuk bahuku, “Hei, gue juga nggak bisa kayak gitu terus-terusan. Ya, lo tahu, bohongin Rein. Mendingan kayak gini.”

Ditya mengakhiri kalimatnya dengan cengiran, lalu mengisap rokoknya. Aku mengira Ditya akan terlihat tertekan atau frustasi, tapi laki-laki itu benar-benar terlihat baik-baik saja. Aku bersandar di tembok di sampingnya, memperhatikan dirinya, ketika berkata, “Hei, Dit.”

Ditya mengembuskan asap dan menoleh padaku. Aku masih mencari setitik bukti patah hati dalam diri Ditya, tapi aku tidak menemukannya.

“Apa lo pernah bener-bener sayang sama Rein?” tanyaku. Pertanyaan yang selalu muncul dalam benakku ketika diingatkan berkali-kali betapa playboy-nya Ditya.

Ditya memiting kepalaku dan menjewerku, membuatku meronta dan menginjak kakinya. Dia tertawa sementara kami lagi-lagi bergulat seperti anak kecil, dan ketika ia melepaskanku, dia sedang terduduk di atas rumput.

Di tengah engah Ditya berkata ringan, “Gue tahu perasaan Aksa dan Rein sejak gue masih ingusan, dan gue milih untuk pura-pura nggak sadar selama bertahun-tahun, karena gue takut mereka sadar. Gue cuma ngembaliin Rein.”

Ditya melempar rokoknya ke tanah dan menginjaknya. Dia melanjutkan lagi, dia agak tertawa, “Gue juga ngembaliin hal lain yang paling disayang Aksa. Gue ngembaliin koleksi TechBusiness kesayangannya ke rumah yang paling tepat: ke murid-murid Sekolah Luar Biasa Gandrapura.” 

Aku melongo ketika Ditya nyengir. Aku berkata, “Harusnya gue tahu buku-buku itu punya Aksa. Soalnya, sejak kapan lo baca? Setelah insiden power rangers lo di perpustakaan, kita semua tahu lo benci buku.”

Ditya kali ini benar-benar tertawa terbahak-bahak, sebelum bangkit dan beranjak pergi. Dia membisikkan terima kasih padaku, dan tiba-tiba saja aku merasa Ditya pergi karena telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Sedikit kata-kata yang dapat menghiburnya. 

Namun aku tidak bisa menghentikan diriku untuk berseru memanggilnya dan bertanya lagi, “Kalau Rein?”

Ditya berbalik sejenak.

“Kalau Rein, apa lo pikir dia bener-bener sayang sama lo?” tanyaku, tidak tahu kenapa aku menanyakannya. 

Ditya mengerucutkan bibirnya dan berpikir sejenak. Dia mengatakan kalimat serius pertama yang pernah kudengar darinya. Juga, pertama kalinya dia memanggilku dengan nama asli.

“Shiva,” dia bilang. “Ada sebagian hal yang mendingan lo nggak tahu.”

Ditya kemudian melambai dengan punggung yang menghadapku. Barulah pada saat itu aku merasakan betapa kesepian sosoknya itu. Aku bertanya-tanya apakah ketidakmampuan Ditya untuk setia adalah karena hati Rein pun bukan miliknya sepanjang waktu ini. Lalu aku juga bertanya-tanya apakah alasan selingkuh seperti itu dapat dibenarkan begitu saja. Aku tiba-tiba saja merasakan simpati aneh pada Ditya yang mungkin seharusnya tidak perlu aku rasakan.

Ditya melambai pada Sharon dan beberapa murid perempuan lain yang sedang bersandar pada mobilnya. Dia mengecup pipi Sharon, dan seketika simpati itu hilang. Aku segera tahu Ditya akan baik-baik saja. Aku bahkan tahu yang ia inginkan dari kunjungan bakti sosial itu mungkin bukanlah penghiburanku sama sekali. 

Dasar Ditya.

Aku diyakinkan kalau kalian semua akan kembali seperti biasa, dan aku memang merasa Aksa yang aku temui beberapa lama setelahnya terlihat lebih segar. Dia tidak bicara banyak tentang Ditya, tapi dia jelas menggerutu tentang koleksi TechBusiness-nya yang menghilang.

“Gue nggak tahu lo suka IT!” kataku berkomentar, ketika pada jam istirahat siang itu aku, kau, dan Aksa makan bertiga. Kau hanya memutar bola matamu seakan itu adalah hal yang tidak mungkin.

“Kenapa lo pikir gue masuk IPA?” Aksa mengedikkan ke arah depan kelas. “Dan harus bertahan ngeliat semua jenis nadi di papan tulis itu?”

Aku begitu bingung dengan apa yang aku inginkan hingga aku tidak sadar orang di sekitarku tahu dengan jelas apa yang mereka inginkan.

“Lagipula apalagi yang tepat buat gue selain jadi orang IT?” tanya Aksa menyendok makan siangnya. “Gue udah pakai kacamata. Gue mau kerjaan yang nggak usah ketemu orang banyak, dan nggak usah terlalu banyak gerak. Voila?”

Voila!” kau mengulang dengan interjeksi, lalu nyengir dan merangkul Aksa. “Lo lupa kalau orang IT harus banyak mikir. Nah, itu juga cocok sama lo.”

“Ya, dan gue ampir botak karenanya, terutama kalau mikirin gimana caranya bikin lo insaf,” kata Aksa padamu. Kau hanya nyengir lagi dan berkata, “Gue udah insaf, kok. Bokap gue ngomong lagi kalau gue harusnya mau belajar bisnis, dan gue udah iyahin.”

“Lo iyahin?” Aksa terlihat terkejut. “Gue kira lo selalu pingin langsung terusin usaha bokap lo? Atau tepatnya pura-pura terusin usaha bokap lo. Gue kira lo benci belajar. Lo akhirnya ketularan Shiva?”

“Lo bener-bener pikir bokap gue biarin gue nggak kuliah, sementara Mei lalu si Emmy baru dapet PhD?” 

Aksa melanjutkan makannya sambil menepuk pundakmu dengan simpatik. “Kalau lo, Shi? Gimana tes beasiswa lo? Gue kok nggak pernah denger Ben ngomong apa-apa lagi.”

Aku tidak sempat memberi tahu Aksa kalau aku jarang bertemu Ben kini setelah segala kekacauan yang terjadi, tapi aku kemudian mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatku panik. “Tes beasiswa. Tiga hari lagi. Ya ampun, gue ampir lupa.”

Kau tampak ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi terpotong dengan Aksa yang menyemangatiku. Bel tanda masuk kemudian berbunyi, jadi apapun itu yang ingin kau katakan, aku harus menunggu. Ulangan matematika dadakan diadakan hari itu, dan untuk pertama kalinya, aku merasa bingung dengan pertanyaannya. Ini bukan kali pertama itu terjadi, tapi aku berusaha untuk mengabaikannya dan menjawab soal-soalnya. Aku pikir saat itu aku hanya terlalu sibuk dengan kursus yang kuikuti hampir setiap malam, dan persiapan tes beasiswaku.

Di akhir kelas nilai Matematika terakhirku dibagikan kembali, dan di sanalah angka merah itu menatapku telanjang: 55. Nilai merah pertamaku di SMU. Karena angka kembar itu, aku merasa tes beasiswa yang tiga hari kemudian akan datang lebih penting lagi. Toh, aku sudah mengacaukan pelajaran sekolahku untuk beasiswa itu!

Selain itu, ide tentang Perancis semakin lama semakin terasa indah dalam benakku. Tempat kursus keluarga Ben bukan hanya mengajarkan bahasa, tapi memperkenalkan budaya. Tidak butuh waktu lama hingga aku membayangkan kota-kota Perancis yang dibagi berdasarkan blok yang memutar. Orang-orangnya yang mengendarai sepeda sewaan. Memakan croissant dan kopi kesukaan bangsa itu di sebuah kafe pinggir jalan, sembari bercakap-cakap dengan orang lain. Mengunjungi banyak notre dames dan menikmati keindahannya. 

Mengetahui kalau kau sempat menentang ideku untuk pergi ke Perancis membuat semua fantasi itu terlihat muram. Namun setelah kau memberikanku buku-buku dari Stéphane, aku tahu kau mendukungku, dan segala kemuraman itu terangkat: Perancis terlihat bahkan lebih berkilau lagi.

Tiga hari kemudian aku mengikuti tesnya, yang bertempat di tempat kursus Ben. Hari itu aku datang lebih pagi satu jam dari waktu yang ditentukan, kemudian sadar aku meninggalkan pasporku yang baru selesai di rumah. Mereka membutuhkannya untuk memeriksa identitas, dan aku benar-benar panik.

Kau ada di sana hari tes itu, duduk menungguku di kafe ditemani kopi suguhan Fendi. Ada Ben yang bersamamu, dan ketika kalian tahu apa yang sedang aku hadapi, Ben segera menyodorkan helmnya padaku. 

Kau maju, menahan Ben, dan berkata, “Nggak apa-apa, masih ada waktu. Kita pulang pakai mobil gue. Gue bakal ambil tol, jadi nggak bakal lama.”

Itu yang aku lakukan. Perjalanan dari tempat kursus ke pintu tol dihalangi kemacetan karena perbaikan jalan, dan segalanya berakhir lebih lama daripada yang diperkirakan. Supirmu telah menyetir secepat mungkin, tapi di tempat yang padat ia tidak bisa apa-apa selain memperlambat. Kau menggenggam tanganku yang saat itu telah bergetar, berkeringat dingin.

Aku telah diberi tahu jika aku terlambat untuk hadir lebih dari lima menit, aku akan didiskualifikasi. Sesampainya mobilmu kembali ke tempat kursus, aku berlari sekuat tenaga dengan paspor di tangan, dan aku berhasil masuk ke dalam dengan tepat waktu.

Tapi sepanjang tesnya jantungku berdebar kencang, entah karena kecemasan yang baru saja aku lalui atau karena aku sangat sadar betapa sangat berartinya tes itu untukku. Pada kenyataannya, walaupun aku telah belajar dengan keras, tes itu tetap terasa sulit untukku.

Air mata mengalir dari pipiku ketika aku melihatmu dan Ben di luar ruang tes. Kalian berdua berdiri tanpa yakin harus berbuat apa. Jika aku mengingat lagi tentang hal itu, aku merasa malu. Betapa cengengnya aku untuk menangis hanya karena aku tidak bisa mengerjakan soal-soal dalam tes itu. Ketika hasilnya keluar dan aku lolos, aku pastinya akan membuat semua orang bangga. Atau setidaknya itu yang Ben dan kau yakinkan padaku, ditemani kopi buatan Fendi.

“Lo cewek yang dapetin tunjangan kursus penuh dari gue,” kata Ben mengangkat alis. “Lo pikir gue bakal kasih kayak gitu ke sembarang orang?  Lo sendiri yang bilang kalau gue bakal bangkrut cepet kalau gue bisnis kayak gitu.”

Kau nyengir, “Gue tadi kasih tahu Ben sesuatu waktu lo di dalem.”

Kini kau mendapatkan perhatianku. Air mataku telah berhenti agak lama, tapi mataku masih agak sembab, jadi pandanganku padamu agak kabur.

“Lo inget kita ngomongin soal gue yang disuruh kuliah sama bokap gue, karena kakak kedua gue Emmy baru dapet PhD?” tanyamu. 

“Gue curiga lo cuma bakal ke Paris buat foya-foya kayak biasa,” Ben menyela, meminum espresso-nya. “Atau nunggu Ditya DO terus barengan jadi liar di sana.”

“Nggak akan, gue di Paris, inget?” katamu, lalu tampak teringat sesuatu kemudian terdiam ketika menoleh ke arahku. “Ya, jadi gitu.”

“Jadi gitu?” Ben mengulang kata-katamu. “Lo nggak mau ngomong berita yang lengkapnya? Kalau Shiva dapat beasiswanya, dia bakal di Lyon. Dan lo di Paris.”

“Dia bisa ngunjungin gue di Paris, ya kan, Shi?” tanyamu. “Di Perancis nggak ada yang jauh. Di Eropa nggak ada yang jauh, tepatnya. Yang jauh itu dari Eropa ke Bandung. Jadi jangan pikir rebut Shiva dari gue.”

Kau hanya nyengir, dan Ben hanya mengangkat alis sambil tersenyum. Tapi aku begitu terpana dengan kata-kata itu hingga aku lupa kalau lima menit sebelumnya aku sedang menangis. Dengan usaha mengalihkan perhatian, aku bertanya, “L-lyon sama Paris... b-bagus mana?”

“Lo tahu,” Ben menoleh ke arahmu. “Gue suka banget kalau dia lagi gagap gara-gara nerveuse. Très adorable. Oke Ed, gue nggak janji gue nggak rebut Shiva.

Kemudian kalian berdua meneruskan itu hingga aku benar-benar yakin kalau sebagian dari alasan kenapa kau menyetujui kuliah ke Paris itu... adalah karena diriku. Kenyataan kalau aku bukan hanya berhasil membuatmu mengikuti grup studi setiap minggu selama setahun lalu di Peinture — tapi juga berhasil membuatmu setuju kuliah keluar negeri — adalah sebuah penghormatan untukku. 


Jadi, untuk dua minggu ke depan setelah itu, aku berhenti mengkhawatirkan tentang beasiswa. 

Segalanya terasa begitu benar dan pas, hingga rasanya beasiswa itu memang ditakdirkan untukku.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...