Monday, November 2, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedua belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kedua belas

Para murid mendapatkan liburan selama satu minggu sepulangnya mereka dari Pangandaran. Luka di betisku benar-benar sudah hampir sembuh, dan itu membuatku merasa betapa kejadian kau-datang-dari-bandara-Soekarno-Hatta-karena-khawatir-padaku sangat berlebihan. Walau begitu aku senang karena dengan begitu Eyang akan berhenti menanyaiku apa aku merasa demam atau tidak nyaman setiap setengah jam sekali.

“Beneran kamu nggak apa-apa?” tanya Eyang sambil terbatuk, ternyata masih meneruskan kebiasaannya. Rasanya aku lah yang seharusnya mengkhawatirkannya, bukan sebaliknya. Makan pagi itu sedikit lebih mewah daripada biasanya, Ditya mengirimkan aku dan Eyang dua bungkus nasi kuning dan nasi timbel, titipan dari Rein, lengkap dengan kerupuk oncom.

Aku agak meragukan kenapa Ditya bahkan mau repot-repot mengantarkannya, hingga aku sadar dia punya motif lain. Dia memohon padaku dari balik pagar, berkata kalau aku adalah harapan terakhirnya. “Gue nggak sengaja ngajak kenalan cewek, kemarin, di Jakarta waktu kalian ke Pangandaran. Ternyata cewek itu orang Bandung, dan dia ngajak gue ketemuan. Lo bantuin gue dong supaya tuh cewek nyerah.... Gue udah bilang gue ada cewek, tapi dia nggak percaya. Lo pura-pura jadi cewek gue deh sekali supaya dia kapok....”

“Ogah!” kataku langsung, tanpa basa-basi. “Lagian lo kok bisa sih dengan gatelnya ngegaet cewek di Jakarta? Mana yang lo bilang monogami itu?”

“Mana gue tahu kalau dia ternyata kenal Rein!” Ditya berseru frustasi. “Gue pikir semua orang ke Pangandaran!”

Ketika aku tetap menolak, Ditya malah balas mengancam. “Kalau lo nggak bantuin gue, gue kasih tahu nomor telepon lo ke Elli, loh. Kemarin dia nanyain nomor lo ke gue.”

Tampangku tampaknya cukup bingung hingga Ditya menjelaskan, “Elli, kakak perempuan keempat Ed. Harusnya kemarin waktu ke Melbourne, Elli juga ikut, karena dia juga pemegang saham gastrobar-nya. Dia semangat banget mau ketemu Ed, sampe bela-belain terbang dari New York. Lalu dia tahu Ed nggak jadi pergi ke Melbourne karena lo, dan minggu depan abis dari Melbourne dia bakal datang ke sini.”

“Terus, hubungannya sama gue?”

“Lo nggak tahu? Elli nggak suka dia deket sama cewek — yah, kecuali Vivi, karena mereka berdua temen dari kecil. Singkatnya, Elli punya brother complex parah,” kata Ditya. “Dan tanpa gue,  ma chere, lo nggak bakal bisa tahu kelemahan Elli apa.”

“Kakak keempat, lo bilang?” Aku mengabaikan sepenuhnya ‘ma chere’ Ditya yang memuakkan.

“Mereka lima bersaudara, semua cewek kecuali Ed.”

Tentu saja. Tidak banyak dari mereka yang adalah anak tunggal sepertiku. Ditya dan Aksa adalah dua bersaudara. Ben, Vivi, dan Rein adalah saudara yang lain. Tapi kau, memiliki empat kakak perempuan? Aku pikir kau hanya punya satu di New York.

Pada akhirnya aku tetap menolak permohonan Ditya; bukan karena aku tega melihat mereka bertengkar dan putus, tapi karena Rein berhak mendapatkan kebenaran. Setelah apa yang Rein lakukan padaku saat di Pangandaran, aku tidak ingin membohonginya dengan membantu Ditya.

Aku membiarkan Ditya pulang dengan muka yang dilipat-lipat, berkata kalau saja Vivi ada di sini, perempuan itu takkan melakukan hal seperti ini padanya. Aku mengabaikannya, benakku lebih tertanam pada Elli.

Keesokan harinya sekolah telah dimulai. Pak Ludo sengaja menyiapkan ulangan Geografi agar murid-murid tidak bisa membolos, tapi tetap saja banyak bangku yang kosong. Jam pelajaran terakhir di hari Senin adalah pelajaran membaca, dan tanpa Aksa, aku kehilangan teman berdiskusi bukuku. Aku memilih Kafka on the Shore milik Murakami dan berniat untuk mengabaikan semua orang lain yang mengubah pelajaran membaca itu menjadi pelajaran bergosip.

Aku tidak biasanya menguping, tapi suara Ami yang kini terasa sangat menyebalkan pada telingaku menarik perhatianku. Dia masih belum putus asa dengan ide menikahimu, dan kini pun dia sedang membicarakan sebuah kolom majalah yang membicarakan keluargamu. Ada nama Elli yang tertangkap telingaku, dan diam-diam pulang sekolah hari itu aku pun membeli majalah yang sama.

Ellisa Chandrasaputra. Cantik, pintar bermain harpa, fashionable, dan memiliki walk-in closet sebesar rumahku, berisi koleksi sepatu. Membaca artikel itu, aku agak mengerti kenapa Elli bisa berteman dekat dengan Vivi. Mereka berdua berada di dunia yang berbeda dengan milikku.

Elli yang berada di dunia yang berbeda itu kemudian meneleponku jauh lebih cepat daripada yang kuperkirakan. Kupikir suaranya yang mengajakku untuk bertemu terdengar netral — aku belum mendeteksi kebencian apapun seperti yang digambarkan oleh Ditya. Mungkin Ditya hanya melebih-lebihkan sewaktu itu agar aku takut.

“Gimana kalau hari biasa, jam tiga?” kata Elli, sebenarnya tidak terlalu menunggu apa jawabanku. “Besok. Ed lagi sibuk, jadi cuma kita berdua.”

Yang terakhir itu benar, karena walaupun kita sudah berbaikan dan ‘menjadi teman’, kau sulit sekali untuk dicapai. Jam istirahat siang sering berbeda antara IPA dan IPS karena jadwal praktikum laboratorium, dan selepas pulang sekolah kau selalu berkata kau ada urusan dan segera pulang. Bahkan tidak ada Aksa yang menemaniku menunggu jemputan ojek, karena Aksa masih sakit.

Tapi, aku masih tidak yakin aku ingin bertemu Elli. Dia tidak mengatakan alasan bertemu denganku, dan rasanya bertanya kenapa agak tidak sopan. Aku memilih jalan aman ketika berkata, “Ujian DELF-ku... em, maksudnya ujian bahasa Perancis yang aku ikuti, hasilnya bakal keluar besok. Jadi, tadinya aku mau ke tempat kursus untuk—”

“Lo kursus di tempat Ben, kan?” tanya Elli, lagi-lagi tidak menunggu jawaban, apalagi menunggu hingga kalimatku selesai. “Nanti minta Ben bawain hasil DELF lo ke Peinture aja. Kita ketemu di Peinture.”

Dan begitulah segalanya ditentukan. Aku tidak memiliki pilihan selain datang. Keesokan harinya sepulang sekolah, aku berhasil mencegatmu sebelum kau masuk ke mobil dan pulang.

“Gue nggak tahu kenapa gue harus ketemu kakak lo,” kataku agak frustasi. “Gue nggak mau diinterogasi.”

“Kakak gue?” Kau mengernyitkan dahimu, berpikir keras. “Tapi semua kakak gue di New York!”

Aku ternganga karena kau tidak tahu apa yang sedang kubicarakan. Apakah telepon dari Elli kemarin hanyalah halusinasi? Atau semacam lelucon balas dendam dari Ditya. Aku bertanya pelan, sembari mempertanyakan kewarasanku, “Ben atau Ditya nggak ngomong apa-apa sama lo?”

“Gue nggak ketemu Ditya sejak liburan Pangandaran, dan gue lagi nggak ngomong sama Ben,” katamu, yang membuatku terkejut. Kau memotong pertanyaanku yang akan datang dengan berkata, “untuk sementara. Ben cuma masih ngambek gue tinggalin dia ke Melbourne sendirian kemarin. Atau mungkin ngambek soal yang lain, gue nggak tahu. Gue bakal ketemu dia sore ini, setelah urusan gue selesai bentar lagi, jadi soal itu lo nggak usah khawatir.”

 Kau mengedikkan kepalamu ke arah mobilmu di belakang. Seorang laki-laki seumuran Ben menjulurkan kepalanya keluar dari kaca jendela, bertanya pada Ed kapan ia akan selesai, karena mereka harus segera pergi ke Lembang untuk beli ketan bakar sebelum jalan menjadi terlalu macet.

“Sori, gue harus pergi,” katamu tanpa menjelaskan apa-apa padaku. “Gue bakal cepet-cepet ke Peinture sepulang dari Lembang, jadi tunggu gue dateng. Oke?”

Ketika kau kemudian pergi menghilang tanpa penjelasan lain, aku benar-benar bingung harus berbuat apa.

Pada akhirnya setelah aku pulang, aku memutuskan untuk mengenakan baju terbaikku, satu-satunya terusan yang tidak terlihat usang. Sebelum aku meninggalkan rumah, aku pamit pada Eyang, mencium punggung tangannya sembari bertanya, “Eyang, menurut Eyang penting nggak pendapat keluarga tentang... em... teman?”

Eyang berpikir sejenak. “Mungkin tergantung keluarganya, dan tergantung temannya.”

“Jawabannya nggak membantu, Eyang,” kataku mendesah.

“Cucu eyang nggak usah takut nggak disukain, soalnya cucu eyang paling cantik dan pintar sedunia,” Eyang tertawa dan menepuk pundakku, “Lagian, siapa sih yang mau diketemuin, cantik begini?”

Aku berniat untuk cepat-cepat pergi sebelum Eyang bertanya lebih banyak, tapi kemudian Eyang menghentikanku. Ia menghilang ke dalam kamarnya dan keluar dengan sebuah kotak sepatu berwarna putih. Ia membukanya dan memperlihatkan isinya kepadaku.

“Kayaknya cocok, deh, sama terusan Shiva,” Eyang berkata. Ketika sepatu itu mencapai lantai rumah kami, aku tahu perkataan Eyang benar. Tidak biasanya aku menyukai warna merah muda, tapi rona warna sepatu itu begitu memukau. Eyang tersenyum ketika tahu aku menyukai sepatu itu. Dia menjelaskan bagaimana Ibunda membelinya ketika ia dan Ayah bertunangan.

Aku tersenyum balik pada Eyang, lalu mengenakkan sepatu itu dan berangkat ke Peinture dengan angkutan. Sepanjang jalannya aku memandang sepatu yang saat itu membalut kakiku. Sepatu itu indah sekali, cantik — seperti ibundaku sebelum ia meninggal dulu.

Aku selalu menatap wajahnya yang tirus, rambutnya yang legam panjang, dan pembawaannya yang elegan dalam foto-foto. Aku selalu berharap aku sedikit seperti dia. Dengan sepatu ibunda, aku merasa aku diberikan sedikit kepercayaan diri dari keluargaku, untuk menemui keluargamu.

Elli sedang duduk di meja di pinggir jendela Peinture dengan segelas teh herbal ketika aku sampai. Setengah wajahnya ditutupi topi beret ala pelukis yang berwarna merah tua, tas bertekstur kulit buaya dengan warna senada, dan sisa bajunya berwarna hitam. Aku segera mengenalinya karena foto yang kulihat di majalah beberapa hari yang lalu.

Aku menyapanya, dan dari pandangan pertama yang Elli lemparkan padaku, aku segera tahu dia sama sekali tidak berpikir seperti Eyang. Ia bahkan agak tidak percaya kalau aku memang benar Shiva, dan bertanya untuk memastikan hingga dua kali. Ada nada sinis yang dulu sering sekali kudengar dari suaramu, dalam suara Elli.

Setelah aku duduk dan memesan café au lait dan mengucapkannya dengan pelafalan Perancis yang sempurna, aku tampaknya mendapatkan sedikit penghargaan dari Elli karena ia kemudian bertanya lagi. Mungkin semacam tes kedua.

“Sepatu lo warnanya unik, gue jarang lihat warna pink kayak gitu. Lo beli di mana?”

Aku tentu saja ingat di mana Ibunda dan Ayah pertama berkencan. Hal semacam itu selalu melekat dalam benak seorang yatim piatu. “Di Pasar Kosambi, tahun 80-an dulu. Ibunda aku—”

“Roger Vivier?” tanya Elli, masih memandangi sepatuku. Tampaknya selain gila fashion, kakak Ed yang satu ini juga hobi memotong kalimatku. Aku hampir bertanya apakah Elli sedang mengatakan sesuatu kosa kata dalam bahasa Perancis yang tidak aku ketahui, ketika Elli bertanya lagi, “Atau Manolo Blahnik?”

Aku segera tersadar.

“Nggak, aku rasa ibuku nggak akan beli sepatu bermerk,” kataku. “Tapi mereka orang baik dan jujur, dan aku sudah cukup bangga dengan itu—”

Keputusanku untuk membela ibuku disambut dengan dengusan sinis dari Elli. “Emang bonyok lo kerja apa?”

“Mereka sudah meninggal,” kataku tanpa berhenti untuk mengambil napas. Aku menjawabnya seperti putaran kaset rusak yang telah diprogram. Sudah terlalu banyak orang yang menanyakan hal itu. Elli tidak sama seperti orang-orang lain, tidak ada keprihatinan yang terpancar dari wajahnya ketika ia mendengarnya. Namun, aku juga tidak mengharapkan hal semacam itu. “Waktu kecil, mereka—”

 “Gue ngerti,” kata Elli memotong lagi, mengangkat tangannya. Ia tidak ingin mendengar detil semacam itu. “Denger, gue udah lihat banyak cewek yang pingin dapetin adek gue, karena latar belakang keluarga gue. Dan gue selalu nyelametin dia dari kerepotan itu. Lo itu tipe orang yang kalau kita minta untuk buat pre-nup, kalian langsung ngacir cari cowok lain—”

“Gue nggak deketin Ed karena kalian kaya, oke? Nggak ada yang bisa milih di keluarga kayak gimana mereka dilahirkan, berapa saudara yang mereka miliki, atau bahkan yatim-piatu atau nggak. Kenapa lo harus ngehakimin gue atas hal yang nggak bisa gue ubah? Emang kenapa kalau orang tua kalian kaya? Emang lo beli semua koleksi sepatu lo itu dengan uang yang susah payah lo dapetin sendiri?” Kali ini aku yang memotong kalimatnya. Aku melepaskan kepura-puraan aku-kamu dan berkata dengan emosi yang telah menumpuk, “Gue cuma suka Ed apa adanya! Gue pingin semua yang terbaik buat dia.”

Aku sedang berdiri terengah-engah setelah mengatakan semua kalimat yang panjang lebar itu. Hanya sepersekian detik kemudian aku tahu aku telah melakukannya lagi: emosiku telah meledak, hampir serupa dengan yang terjadi ketika aku melemparimu sepatuku yang berlumpur saat MOS.

Elli memandangku sangat terkejut hingga kehilangan kata-kata. Aku rasa dia kini merasa selain materialistis, aku juga gila. Tamu-tamu lain Peinture juga memperhatikan aku yang sedang berdiri. Aku tidak sadar kalau sedari tadi aku menjadi pusat perhatian.

“Shiva?”

Aku menoleh ke samping dan menemukanmu berdiri di pintu masuk Peinture. Wajahku terasa panas ketika melihat raut wajahmu yang kaget. Aku tidak merasa aku dapat berdiri di sana lebih lama, jadi aku mengeluarkan uang dari dompetku untuk café au lait yang tidak kusentuh, menaruhnya di atas meja, kemudian beranjak keluar.

Kau menahanku dan memintaku untuk menunggumu sebentar sementara kau masuk untuk berbicara dengan Elli. Ketika kau berbalik untuk masuk, aku melewatimu dan berjalan pergi.

Aku sadar apa yang baru saja aku katakan begitu memalukan, hingga rasanya aku tidak ingin bertemu dirimu lagi selamanya karena malu. Tapi malamnya, ketika aku berbaring di ranjang menatap langit-langit kamar, dengan sepatu merah muda ibuku tergeletak di atas meja belajar, aku merasa aku telah melakukan hal yang benar. Segala yang telah aku katakan adalah apa yang jujur aku rasakan, jadi kenapa aku harus malu? Elli-lah yang seharusnya malu pada dirinya sendiri karena ia menghakimiku secara tidak adil.

Setelah melewati satu hari berikutnya di sekolah tanpa bertemu dirimu, aku pergi ke tempat kursus. Aku perlu mengambil hasil ujian DELF, karena hanya dengan itu aku dapat mendaftar tes beasiswa yang akan diadakan dua minggu mendatang. Aku rasa aku sudah melakukan yang terbaik pada ujian DELF itu, jadi aku sudah pasrah.

Untuk masuk ke tempat kursus, aku harus melewati kafe di mana aku dan Ben biasa meminum secangkir café au lait buatan Fendi. Aku biasanya menyapanya dan meneruskan langkahku ke resepsionis atau ke kelas, tapi hari itu aku terdiam.

Aku melihat Elli, dengan scarf yang diikat mengelilingi kepalanya dan sebuah kacamata hitam besar di wajahnya, bersembunyi di balik pilar. Ia sedang mengintip ke arah meja kasir. Aku tidak yakin apakah aku perlu menyapanya setelah apa yang terjadi, jadi aku tadinya memutuskan untuk lewat saja.

Tapi tampaknya, sebaliknya, Elli yang menyadari keberadaanku. Dia berjengit terkejut ketika melihatku, kemudian berlari pergi. Fendi dan aku saling berpandangan, sebelum Fendi berusaha lari mengejar Elli. Ia tidak berhasil.

Untuk pertama kalinya aku duduk di kursi tinggi bar yang menghadap langsung ke tempat barista. Fendi yang kembali dari pengejarannya terhadap Elli tampak terguncang. Aku duduk di sana untuk beberapa saat, bertanya-tanya apakah Fendi akan menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
Fendi memberiku secangkir café au lait dan meminta maaf padaku.

“Kenapa minta maaf?” tanyaku menggeleng buru-buru. “Nggak apa-apa, kok. Gue... em....”

“Barusan banget Ed datang buat ngambil hasil tes DELF lo, dan bilang soal kejadian kemarin,” kata Fendi. Aku terkejut mendengarnya, tapi aku membiarkan Fendi menyelesaikan kata-katanya. Fendi berkata, “Gue minta maaf tadi itu untuk kata-kata Elli kemarin.”

Ada kesunyian di antara kami. Fendi bersandar di meja dekat grinder-nya.

“Gue pacaran sama Elli lumayan lama,” katanya. “Sampai dia sadar gue nggak bisa beliin dia tas YSL untuk hari Valentine, atau ajak dia jalan-jalan dalam sedan Eropa. Gue nggak sama kayak temen-temen dia yang lain — itu yang pertamanya bikin dia tertarik, tapi itu juga kenapa di akhir dia ninggalin gue. Orang bilang, lebih enak nangis di BMW daripada di atas sepeda, dan mungkin mereka bener.”

 Tidak seperti aku yang tidak mau meninggalkan Ed walaupun aku dianggap miskin, Fendi memiliki pandangan yang berbeda. Hingga detik ini ia berpendapat kalau kepergian Elli adalah keputusan terbaik untuk semua orang. Ada sakit dalam raut wajahnya ketika ia mengatakan hal itu, tapi ia kukuh berkata jika Elli memang lebih bahagia seperti itu, maka Fendi pun tidak akan menghalanginya.

Itulah kenapa Fendi tidak mencegah Elli yang kemudian langsung menikah ke New York selepas SMU. Suaminya adalah pengusaha kaya yang telah lumayan lama menjadi partner bisnis orang tuanya di Amerika.

Aku tidak ingat artikel di majalah yang kubaca menyebut-nyebut tentang pernikahan sama sekali. Aku hampir bertanya lagi, sebelum kau muncul di belakang kami, terengah-engah, menanyakan keberadaan Elli.

“Gue balik lagi soalnya gue denger katanya Elli kemari,” katamu. “Suaminya baru telepon gue. Gue harus ketemu dia secepetnya.”

Peinture adalah tempat favorit Elli selain rumah, dan otomatis kami bertiga mencari ke sana. Kafe harus ditutup sementara Fendi meninggalkan tempat kerja, tapi kau meyakinkan Fendi kalau kau akan berbicara pada Ben tentang itu. Yang terpenting sekarang adalah menemukan Elli terlebih dahulu.

Ketika kami sampai di Peinture tidak lama kemudian, aku dan kau berdiri di ambang pintu sementara Fendi memutar ke bagian belakang tempat parkir, di mana Elli sedang berdiri sendirian memandangi taman. Ia terkejut melihat kedatangan Fendi. Tapi ketika Fendi telah menggamit lengannya, Elli malah meledak ke arah Fendi.

“Toby mau cerai,” kata Elli parau, tangannya memukul-mukul dada Fendi sekuat tenaga. “Semua sudah diurus pengacaranya. Gue dapat beberapa rumah di beberapa negara yang gue nggak ingat. Dia kasih gue banyak banget uang, sampai gue nggak bisa hitung berapa. Tapi dia nggak mau gue lagi. Dia pingin gue balik ke Bandung, supaya nggak usah ngeliat muka gue lagi di New York. Dia nggak cinta gue lagi. Atau, dari awal, dia nggak pernah cinta gue.

“Sekarang lo seneng, kan? Karena gue dulu yang ninggalin lo demi cowok kaya? Lo puas lihat gue menderita, kan? Lo bakal bilang, ‘Lo pantes dapetin itu semua, soalnya lo yang dulu bilang kalau manusia nggak bisa cuma makan cinta, jadi lo sekarang dapet uang tanpa cinta’? Itu, kan, yang semua orang miskin pikir?”

Lalu Elli menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Fendi. Tanpa sedikit pun amarah atas kata-kata Elli, Fendi mengelus-elus rambut perempuan itu, menepuk-nepuk punggungnya, menenangkannya.

“Tapi gue bisa apa, Fen...,” Elli terisak. “Dari dulu gue selalu pikir gue cuma bisa bertahan kalau gue nikah sama orang kaya. Cuma dengan begitu, gue bisa terus hidup enak. Gue bukan Erika yang bisa bantu urus cabang hotel bonyok gue di Amrik. Atau kayak Emmy yang pintar, yang summa cumlaude. Gue juga juga nggak berbakat kayak Eva, yang sejak SMU udah dapet banyak tawaran recording. Gue cuma Elli, yang nggak bisa apa-apa. Gue nggak berguna, Fen.”

“Itu nggak bener,” kata Fendi singkat, tapi ada ketulusan yang terasa dalam kata-katanya. “Lo sendiri tahu kalau yang baru lo bilang itu nggak bener.”

Ketika kemudian Elli menangis lagi, dan berkata kalau ia menyesal atas apa yang terjadi antara dirinya dan Fendi, Fendi hanya tersenyum tipis. Saat itulah aku mengerti kalau Fendi bukan hanya menginginkan yang terbaik bagi Elli, tapi dia juga telah merelakan Elli sedari lama sekali. Ia tidak pernah merasakan dendam apapun yang Elli tuduhkan padanya.

Melihat mereka berpelukan, dengan daun-daun dari pohon taman Peinture berguguran di belakang, aku sadar sesuatu. Elli bukan takut kalau adiknya memilih cinta daripada uang; dia hanya melampiaskan penyesalannya yang telah memilih uang daripada cinta.

Fendi berpendapat penyesalan Elli itu salah, karena ia sadar betul hanya cinta saja tidak bisa membuat segalanya berjalan lancar. Tanpa Elli menikahi orang lain pun, mungkin hubungan mereka akan kandas di tengah jalan karena perbedaan yang mereka miliki. Maka, ia melepaskan Elli, hanya bisa berdoa agar Elli mendapatkan yang terbaik.

Tapi pada akhirnya segalanya tidak berakhir bahagia selamanya, karena hidup memang tidak pernah seperti itu. Itu tidak apa-apa, karena manusia dapat bangkit lagi dan menghadapi hari yang baru.

Cara Elli untuk bangkit lagi adalah membicarakan semua masalah perceraiannya dengan kedua orang tuanya. Kau berkata padaku kalau kedua orang tuamu sebenarnya tidak kaget, mengingat betapa mudanya Elli menikah dulu. Yang terkejut adalah ketiga kakak perempuan Elli yang tinggal juga di New York, karena mereka begitu dekat dengan Elli tapi tidak tahu apa-apa tentang masalah rumah tangga adiknya. Mereka juga tidak sadar betapa Elli merasa tertekan dan dibanding-bandingkan dengan saudaranya yang lain. Keempat bersaudara itu kemudian berjanji untuk berkumpul untuk makan malam di Upper East Side setidaknya sekali setiap minggu, untuk memperbaiki kerenggangan hubungan mereka.

Kau juga berkata padaku kalau Toby, mantan suami Elli, meneleponmu untuk berkata ia memang mencintai Elli ketika ia menikahinya dulu. Ia ingin kau dan keluargamu membantu Elli agar ia pulih dari keterkejutannya. Toby hanya merasa yang mereka inginkan dalam hidup terlalu berbeda. Toby tidak menjelaskan lebih banyak lagi, tapi  kenyataan kalau Toby memang mencintainya dulu membuat Elli merasa sedikit lebih baik.

Elli harus kembali ke New York untuk mengurus prosedur masuknya dirinya ke Parsons the New School of Design — dia memutuskan untuk berkuliah lagi. Fendi tetap menjadi barista di kafe tempat kursusku, dan seakan satu minggu terakhir tidak pernah terjadi, hidup kami pun masing-masing berjalan lagi.

Pada hari terakhir Elli berada di Bandung, ia meneleponku lagi dan memintaku untuk menemuinya di Peinture. Aku memutuskan untuk mengenakan sepatu merah muda peninggalan Ibunda lagi, untuk alasan yang aku sendiri tidak mengerti. Mungkin kupikir, kalau Elli masih memiliki pendapat yang sama padaku, aku bisa mengambil sedikit keberanian dari energi yang kudapat dari sepasang sepatu itu.

Elli dan aku berpandang-pandangan lama sekali tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Ditya ada di Peinture, hari itu, memperhatikan aku dan Elli dari jauh. Ia mendekat dan menyapa Elli, kemudian memberikan Elli satu porsi crème brûlée. Segera setelah ia menyendoknya ke dalam bibirnya, Elli mendesah dan berkata pada Ditya, “Thanks, Dit, lo tahu aja gue butuh apa.”

Ditya melempar pandangan sekarang-lo-berhutang-sama-gue sebelum dia pergi dengan senyuman puas. Ternyata itu yang Ditya bilang kelemahan Elli. Crème brûlée. Tentu saja; kau dan Elli adalah kakak-adik, tidak aneh kalau kalian menyukai hal yang sama: makanan yang luar biasa manis.

Elli memakan satu sendok lagi sebelum dia berkata, “Maaf ya, tentang waktu itu. Edmund memang kesayangan kita sekeluarga, jadi gue dari waktu ke waktu jadi agak protektif. Gue rasa gue ngomong semua itu ke elo supaya gue ngerasa lebih baik tentang gue sendiri. Meyakinkan kalau keputusan yang dulu gue ambil itu bener, walaupun sekarang pernikahan gue berakhir dengan perceraian.”  

Aku bisa saja menjadi orang paling menyebalkan di dunia ini dan berkata kalau kata-kata Elli kemarin keterlaluan, dan tidak bisa memaafkannya. Tapi aku melihat matanya yang sembab dan otomatis berkata, “Nggak apa, kok.”

“Gue harus pergi sekarang, atau gue bakal ketinggalan pesawat,” kata Elli, kemudian bangkit dari tempat duduknya. Elli menatap kakiku yang sedari tadi tersembunyi meja di antara kami, kemudian berkata, “Sepatu lo bagus, cantik banget. Cocok untuk lo.”


Elli melayangkan sebuah senyuman tanda damai padaku. Ada lesung pipit di bagian kiri pipinya, yang mengingatkanku padamu. Elli melambai ringan sebelum kemudian pergi, dan tiba-tiba saja aku sangat merindukanmu.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...