Monday, November 30, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keenam belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keenam belas

“Denger,” katamu di telepon sore itu di hari Minggu. “Gue nggak tahu apa yang terjadi, tapi lo nggak bisa ngehindarin gue terus-terusan. Apa sih yang Leon bilang sampe lo jadi begini? Sampe lo nggak mau ngeluangin sedikit waktu aja buat gue?”

Aku menelan ludah. “Gue sebenernya udah mau ngomong ke elo kok....”

“Kapan? Lo selalu kabur dari gue setiap kali gue tanya kenapa, kan?” katamu.

Aku terdiam. Apa yang Ben katakan tempo hari membuat sebuah dilema di dalam diriku. Walaupun harapan seperti itu bukan tidak mungkin, tapi memintanya darimu terasa egois. Ditambah lagi, mengatakan kalau aku tidak mendapatkan beasiswa itu akan mengundang ekspresi menyakitkan darimu yang tidak ingin kulihat.

Ben belum memberitahumu, dan aku tahu Ben berpikir aku-lah yang seharusnya memberi kabar itu. Kau takkan senang jika sadar aku pergi dan mengadu pada Ben terlebih dahulu, dibanding mendiskusikannya denganmu.

Aku berbisik, “Sorry.”

Monday, November 23, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kelima belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!



.memori kelima belas

Saat aku kelas 3 SMU, ada puluhan anak pindahan yang datang. Secara teknis mereka bukan anak sekolah lain — cabang tempat Rein bersekolah sedang direnovasi. Ada sekitar 50 murid pengungsi yang kemudian berbagi ruang kelas denganku, dan Rein adalah salah satunya. Tidak ada satu pun dari teman main Rein yang ikut pindah, membuatku berpikir mungkin Rein bersedia diungsikan karena keberadaan Aksa.

Hubungan mereka begitu tenang dan nyaman, rasanya tidak pernah ada pertengkaran yang kudengar. Ketika Rein dan Ditya penuh dengan gejolak, hubungan Rein dan Aksa terasa datar. Aku sempat mempertanyakan apakah itu berarti buruk, hingga aku sadar Rein dan Aksa sering tersenyum kecil pada satu sama lain ketika mereka pikir tidak ada orang lain yang melihat.

Mereka begitu lama menyimpan perasaan itu di dalam diri mereka sendiri, hingga mereka begitu berhati-hati. Menjaga hubungan itu seperti porselen yang mudah retak.

Monday, November 16, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keempat belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keempat belas

Tahun itu sekolahku memutuskan untuk Valentine’s Day, dibandingkan membuat acara-acara yang melibatkan kartu pengakuan cinta dan bunga mawar, kami dibawa secara setengah paksa untuk bakti sosial di Sekolah Luar Biasa terdekat. Aku tentu saja tidak keberatan, satu-satunya hal yang dapat membuat orang merasa berterima kasih pada keadaannya sekarang adalah dengan berbagi. 

Aksa pulang dari rumah sakit hari itu, dan kau absen untuk menemani Aksa. Alasan semacam itu tidak dipercaya oleh siapapun, karena semua orang juga tahu kau selalu melewatkan acara semacam ini: MOS, Pangandaran.... Aku merasa murid lain tidak terlalu menyukai eksklusifitasmu, namun mereka tampak berhati-hati untuk tidak membicarakan ini ketika ada aku. 

Kalau kau adalah orang yang eksklusif, Ditya adalah kebalikanmu 180 derajat. Bakti sosial SLB itu juga terbuka untuk para alumni, dan satu-satunya orang yang tidak berkumpul untuk merayakan kepulangan Aksa dari rumah sakit adalah kakaknya sendiri. Ditya datang berkunjung dengan mobil sport-nya yang berwarna merah, menimbulkan histeria tertahan dari murid-murid perempuan.

Thursday, November 12, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketiga belas

Sorry for this is a little overdue. But here it is!

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!




.memori ketiga belas

Semakin jauh seseorang masuk ke dalam pagar duniamu, kau semakin menjaga mereka, menyayangi mereka. Aku bisa mengatakan hal itu, karena aku sendiri kini merasa berada di dalam sana. Dibandingkan sikapmu pada awal kita mengenal satu sama lain, aku merasa ada perubahan besar. Aku menyadarinya suatu pagi segera setelah Elli kembali ke New York.

Monday, November 2, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedua belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kedua belas

Para murid mendapatkan liburan selama satu minggu sepulangnya mereka dari Pangandaran. Luka di betisku benar-benar sudah hampir sembuh, dan itu membuatku merasa betapa kejadian kau-datang-dari-bandara-Soekarno-Hatta-karena-khawatir-padaku sangat berlebihan. Walau begitu aku senang karena dengan begitu Eyang akan berhenti menanyaiku apa aku merasa demam atau tidak nyaman setiap setengah jam sekali.

“Beneran kamu nggak apa-apa?” tanya Eyang sambil terbatuk, ternyata masih meneruskan kebiasaannya. Rasanya aku lah yang seharusnya mengkhawatirkannya, bukan sebaliknya. Makan pagi itu sedikit lebih mewah daripada biasanya, Ditya mengirimkan aku dan Eyang dua bungkus nasi kuning dan nasi timbel, titipan dari Rein, lengkap dengan kerupuk oncom.

Aku agak meragukan kenapa Ditya bahkan mau repot-repot mengantarkannya, hingga aku sadar dia punya motif lain. Dia memohon padaku dari balik pagar, berkata kalau aku adalah harapan terakhirnya. “Gue nggak sengaja ngajak kenalan cewek, kemarin, di Jakarta waktu kalian ke Pangandaran. Ternyata cewek itu orang Bandung, dan dia ngajak gue ketemuan. Lo bantuin gue dong supaya tuh cewek nyerah.... Gue udah bilang gue ada cewek, tapi dia nggak percaya. Lo pura-pura jadi cewek gue deh sekali supaya dia kapok....”

“Ogah!” kataku langsung, tanpa basa-basi. “Lagian lo kok bisa sih dengan gatelnya ngegaet cewek di Jakarta? Mana yang lo bilang monogami itu?”

“Mana gue tahu kalau dia ternyata kenal Rein!” Ditya berseru frustasi. “Gue pikir semua orang ke Pangandaran!”

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...