Monday, October 26, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kesebelas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kesebelas

Seluruh anak kelas dua diberi kesempatan untuk berdarmawisata ke Pantai Pangandaran di pertengahan tahun ajaran. Untuk pengecualian, anak-anak yang pernah mendapatkan hukuman setingkat lembar merah tidak diperbolehkan ikut.

Tentu saja tidak terlalu banyak murid yang pernah mendapatkan lembar merah; karena itu adalah termasuk hukuman kedua tertinggi. Kau sayangnya pernah mendapatkan lembar merah, ketika kau dan Ditya mabal dari hukuman perpustakaan ditemani ringtone Power Rangers waktu itu. Kau resmi tidak diperbolehkan untuk ikut ke Pangandaran, tapi tampaknya kau tidak terlalu peduli. Aksa bilang kau akan menggunakan waktu istirahat rumahmu untuk pergi menemani Ben survey gastrobar ke Australia. Kalian bermaksud untuk bekerja sama membuka semacamnya di Bali tahun depan.

Ditya dan Ben (yang lulus jauh sebelum kita) juga tidak pernah mengikuti acara semacam ini karena alasan yang sama. Tapi aku dan Aksa bukan tipe pelanggar peraturan, jadi kami diberikan kesempatan seperti yang lain. Aksa bahkan berkata kalau Rein yang seangkatan dengan kita juga akan ikut.

“Rein?” aku terkejut. “Rein ikut?”

Monday, October 19, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kesepuluh

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kesepuluh

Hari itu setelah mengantar kepergian Vivi, Ben mengantarku pulang ke rumah. Keesokan paginya, aku datang ke sekolah jauh sebelum bel berbunyi. Aku tidak bisa tidur. Kau duduk di kursiku, menungguku datang. Itu adalah untuk pertama kalinya kau masuk sekolah sejak kelas dua. Kau sedang menungguku.

Aku merasa deja vu, tapi kali itu kau tidak berada di sana untuk membaca binderku. Kau datang untuk mengatakan sesuatu, yang tampaknya juga dengan sulit kau ungkapkan secara gamblang.

“Denger,” katamu. “Soal Vivi dan gue... kita berdua udah kenal lama.”

Ada sesuatu dalam diri Vivi yang membuatmu ingin melindunginya; walaupun umurnya lebih dewasa. Mungkin karena Vivi adalah perempuan paling lembut yang kau tahu. Kau ingin melindungi dan mengayomi, itu adalah nalurimu. Kau ingin dia hanya ada untukmu, itu adalah egomu.


Monday, October 12, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kesembilan

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kesembilan

Aku terbangun dua minggu setelah aku naik ke kelas dua SMU dengan Pak Gianyar yang datang ke rumahku dengan terburu-buru. Eyang sedang duduk di teras depan dengan papan caturnya ketika Pak Gianyar datang. Ada selembar koran baru terbit yang diggenggam Pak Gianyar erat-erat, wajahnya menyimpan berjuta rasa yang siap meledak kapan saja.

Pak Gianyar memperlihatkan sebuah kolom pada Eyang, yang membuat Eyang melamun. Pak Gianyar menepuk pundak Eyang sambil menyerukan kata selamat, barulah Eyang berjingkrak-jingkrak dan memelukku.

Monday, October 5, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedelapan

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kedelapan

Kelas satu diakhiri dengan kau yang mendapatkan deretan nilai yang memuaskan pada mata pelajaran yang tadinya hampir membuatmu tinggal kelas. Delapan koma lima untuk Matematika, delapan untuk Fisika, delapan koma dua untuk Geografi, dan tujuh koma delapan untuk Akuntansi.

Pada Kimia kau mendapatkan lima koma sembilan, angka yang sebenarnya lumayan baik jika mengingat bagaimana kau menolak sama sekali untuk mempelajari apapun tentang Kimia. Bahasa Inggris-mu mendapat nilai sembilan koma delapan, nyaris sempurna, nilai paling tinggi satu angkatan.

Setelah pembagian rapor, kau mentraktir Aksa, aku, dan Ditya makan di Peinture. Secara resmi grup studi mingguan kita berakhir hari itu. Ben menyapa kedatangan kita dengan sebuah lambaian, sementara inderanya yang lain fokus pada lukisan yang ia kerjakan. Ditya mengelitiki tubuh Ben hingga ia menyerah dan bergabung bersama, dan kita semua tertawa hingga petang.

Being an Adult and Why I Ran Away From It

Hello all, Fenny here. :)

It's been a while. This post is for all of you out there who's too old to be a teenager, but barely an adult.

Who's struggling to face adult life, no matter how much you try to resist.

I know I am one of them, and my only emotional outlet is writing, so here goes....

I have siblings, but to be honest, we didn't really grow up together. I am immensely proud of my siblings — I brag about them all the time to my friends. That's just how much I love them, even though I know it's annoying. People say, you will subconsciously put a bit of yourself into your writing. For me, perhaps that is the brother figure that's always been there in all of my works.

But as much as I love them, I never really talk about life with them. There was that one time when I was confused on which path to take after high school, but that's about it. I always wonder at how my friends can talk about boy problems to their sister and mother. For me, when I cry because of boys for example, I turn to my friends.

I turn to them so much about so many things, until one point I realise, that I might have rely on them  too much. Especially when they have moved on with their lives and might not have as much time for me anymore.

How many times, have you been disappointed because you 'lose a friend' after they've got a boyfriend or girlfriend?


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...