Monday, August 24, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedua

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!
.memori kedua
Aku memiliki sebuah buku binder dengan bagian tengah yang bisa dibuka. Kertas bisa dicabut atau ditambahkan ke dalamnya sesuai kebutuhanku. Sampul depannya bergambar menara Eiffel kesukaanku. Aku mendapatkannya dari Eyang pada ulang tahunku yang kelima belas. 
Aku tahu aku pada akhirnya akan menjadi seorang sarjana teknik, karena itulah satu-satunya cara agar aku mendapatkan gaji yang cukup untuk membiayai diriku sekaligus Eyang. Tapi bahkan pada saat SMU aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, kalau aku terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam dunia yang aku ciptakan sendiri. Aku suka menulis.

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori pertama


Halo semua, lama tidak bersua. Fenny berbicara di sini. 

Naskah yang ini adalah gubahan dari Raindrops (mungkin yang dulu rajin mengunjungi sini tahu tentang cerita satu itu). Hari ini saya melihat isi memori komputer dan menemukannya. Saya berpikir, kenapa membiarkannya berlumut seperti ini?

Jadi di sini saya melepas naskah ini ke dunia, walaupun tahu dengan yakin saya akan mengundang kemarahan banyak orang yang membacanya sampai selesai. Naskah ini, harus saya tegaskan dari awal, ditulis dengan sepenuhnya keegoisan saya. Naskah ini tidak mengikuti premis pembuka-masalah-penyelesaian seperti yang 'seharusnya', tetapi bagi saya naskah ini sudah selesai.

Potongan hidup sulit ketika menulis naskah ini juga sama-sama sudah saya tinggalkan.

Selamat menikmati.

***


Aku telah memutuskan kalau untuk melepaskanmu, 
yang aku butuhkan adalah berhenti berusaha melupakanmu. 

Sebaliknya, aku akan mengingat segala tentangmu, 
dari awal hingga kita berpisah jalan. 


***
.memori pertama

Kau melewati masa-masa orientasi SMU berbeda dengan murid lain. Salah satu dari teman sekelompokmu adalah ketua OSIS, dan tentu saja kau diberikan keringanan. Tidak seperti murid kelas satu lain yang dijemur di bawah terik matahari dan diperintah untuk mengikat rumput liar dengan karet rambut, kau duduk santai di kantin.

Kau bermain dalam satu kelompok yang telah kau kenal sejak kalian kecil. Orang bilang ketiga keluarga kalian bersahabat, tapi aku juga tahu kalian tinggal berdekatan. Saat itu aku merasa kalian begitu jauh, hingga rasanya aneh sekali ketika tahu bertahun-tahun kemudian, aku menjadi bagian dari kelompok itu.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...