Monday, December 14, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedelapan belas - END

.memori kedelapan belas

Setelah apa yang terjadi, kau yang dulu mungkin akan berpaling dan semudah itu melanjutkan hidupmu lagi, tanpa sedikit pun rasa khawatir atau sesal pada dunia. Dahulu, pusat rotasi duniamu adalah dirimu sendiri, dan kau tidak memiliki sedikit pun peduli pada perubahan yang terjadi. Namun kau bukanlah kau yang kukenal saat masuk SMU dulu.

Itu adalah fakta yang kuyakinkan pada diriku sendiri, sementara telepon dan temu semakin berkurang di antara kita. Kita memang sibuk selama akhir SMU itu, tapi aku tahu kalau malam terakhir itu tidak pernah terjadi, aku dan kau pasti akan mencari sela dalam kesibukan itu.

Sebenarnya sedikit-banyak aku mengerti apa yang kaurasakan. Rasanya bertambah dekat ketika sebentar lagi dipaksa untuk berpisah membuat segalanya lebih menyakitkan. Seperti menyirami sebuah pohon yang akan segera ditebang.


Monday, December 7, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketujuh belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori ketujuh belas

Aku berbohong padamu, berkata kalau pengumuman beasiswa diundur hingga satu bulan ke depan. Kau tidak tampak curiga, kemungkinan besar karena kau sendiri pun disibukkan hal-hal lain untuk memperhatikan hal semacam itu. Kau hanya berkata kalau aku sudah memiliki tanggal keberangkatan yang pasti, kau akan membelikan tiket agar kita dapat berangkat bersama.

Kau tidak terlalu banyak menyinggungnya lagi setelahnya. Secara umum suasana hatimu tampak lebih riang daripada biasanya setelah pesta itu, dan aku tahu kenapa. Kau merasa kalau ibumu menyukaiku, dan alasannya pasti karena insiden pembalut itu.

Kelas tiga mendekati akhir, dan kau terlalu terdistraksi untuk memikirkan tentang hal itu lebih lanjut. Semua murid senior dipaksa untuk terdistraksi, karena rentetan simulasi UAN dan UAS memenuhi hampir setiap hari. Alih-alih belajar di kelas, kami lebih sering dipindah ke aula, dipaksa untuk duduk di atas kursi keras selama berjam-jam, disodori soal-soal yang difotokopi di atas kertas buram.

Ada sekolah lain dengan reputasi serupa yang selama ini menjadi rival sekolah kami. Tahun lalu ada murid dari sana yang membeli bocoran kunci jawaban UAN. Dia mencatatnya pada batang sebuah pensil, dalam bentuk titik-titik warna-warni. Kode yang hanya dia yang mengerti: merah untuk A, kuning untuk B, hijau untuk C, dan biru untuk D.

Monday, November 30, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keenam belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keenam belas

“Denger,” katamu di telepon sore itu di hari Minggu. “Gue nggak tahu apa yang terjadi, tapi lo nggak bisa ngehindarin gue terus-terusan. Apa sih yang Leon bilang sampe lo jadi begini? Sampe lo nggak mau ngeluangin sedikit waktu aja buat gue?”

Aku menelan ludah. “Gue sebenernya udah mau ngomong ke elo kok....”

“Kapan? Lo selalu kabur dari gue setiap kali gue tanya kenapa, kan?” katamu.

Aku terdiam. Apa yang Ben katakan tempo hari membuat sebuah dilema di dalam diriku. Walaupun harapan seperti itu bukan tidak mungkin, tapi memintanya darimu terasa egois. Ditambah lagi, mengatakan kalau aku tidak mendapatkan beasiswa itu akan mengundang ekspresi menyakitkan darimu yang tidak ingin kulihat.

Ben belum memberitahumu, dan aku tahu Ben berpikir aku-lah yang seharusnya memberi kabar itu. Kau takkan senang jika sadar aku pergi dan mengadu pada Ben terlebih dahulu, dibanding mendiskusikannya denganmu.

Aku berbisik, “Sorry.”

Monday, November 23, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kelima belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!



.memori kelima belas

Saat aku kelas 3 SMU, ada puluhan anak pindahan yang datang. Secara teknis mereka bukan anak sekolah lain — cabang tempat Rein bersekolah sedang direnovasi. Ada sekitar 50 murid pengungsi yang kemudian berbagi ruang kelas denganku, dan Rein adalah salah satunya. Tidak ada satu pun dari teman main Rein yang ikut pindah, membuatku berpikir mungkin Rein bersedia diungsikan karena keberadaan Aksa.

Hubungan mereka begitu tenang dan nyaman, rasanya tidak pernah ada pertengkaran yang kudengar. Ketika Rein dan Ditya penuh dengan gejolak, hubungan Rein dan Aksa terasa datar. Aku sempat mempertanyakan apakah itu berarti buruk, hingga aku sadar Rein dan Aksa sering tersenyum kecil pada satu sama lain ketika mereka pikir tidak ada orang lain yang melihat.

Mereka begitu lama menyimpan perasaan itu di dalam diri mereka sendiri, hingga mereka begitu berhati-hati. Menjaga hubungan itu seperti porselen yang mudah retak.

Monday, November 16, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keempat belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keempat belas

Tahun itu sekolahku memutuskan untuk Valentine’s Day, dibandingkan membuat acara-acara yang melibatkan kartu pengakuan cinta dan bunga mawar, kami dibawa secara setengah paksa untuk bakti sosial di Sekolah Luar Biasa terdekat. Aku tentu saja tidak keberatan, satu-satunya hal yang dapat membuat orang merasa berterima kasih pada keadaannya sekarang adalah dengan berbagi. 

Aksa pulang dari rumah sakit hari itu, dan kau absen untuk menemani Aksa. Alasan semacam itu tidak dipercaya oleh siapapun, karena semua orang juga tahu kau selalu melewatkan acara semacam ini: MOS, Pangandaran.... Aku merasa murid lain tidak terlalu menyukai eksklusifitasmu, namun mereka tampak berhati-hati untuk tidak membicarakan ini ketika ada aku. 

Kalau kau adalah orang yang eksklusif, Ditya adalah kebalikanmu 180 derajat. Bakti sosial SLB itu juga terbuka untuk para alumni, dan satu-satunya orang yang tidak berkumpul untuk merayakan kepulangan Aksa dari rumah sakit adalah kakaknya sendiri. Ditya datang berkunjung dengan mobil sport-nya yang berwarna merah, menimbulkan histeria tertahan dari murid-murid perempuan.

Thursday, November 12, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketiga belas

Sorry for this is a little overdue. But here it is!

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!




.memori ketiga belas

Semakin jauh seseorang masuk ke dalam pagar duniamu, kau semakin menjaga mereka, menyayangi mereka. Aku bisa mengatakan hal itu, karena aku sendiri kini merasa berada di dalam sana. Dibandingkan sikapmu pada awal kita mengenal satu sama lain, aku merasa ada perubahan besar. Aku menyadarinya suatu pagi segera setelah Elli kembali ke New York.

Monday, November 2, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedua belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kedua belas

Para murid mendapatkan liburan selama satu minggu sepulangnya mereka dari Pangandaran. Luka di betisku benar-benar sudah hampir sembuh, dan itu membuatku merasa betapa kejadian kau-datang-dari-bandara-Soekarno-Hatta-karena-khawatir-padaku sangat berlebihan. Walau begitu aku senang karena dengan begitu Eyang akan berhenti menanyaiku apa aku merasa demam atau tidak nyaman setiap setengah jam sekali.

“Beneran kamu nggak apa-apa?” tanya Eyang sambil terbatuk, ternyata masih meneruskan kebiasaannya. Rasanya aku lah yang seharusnya mengkhawatirkannya, bukan sebaliknya. Makan pagi itu sedikit lebih mewah daripada biasanya, Ditya mengirimkan aku dan Eyang dua bungkus nasi kuning dan nasi timbel, titipan dari Rein, lengkap dengan kerupuk oncom.

Aku agak meragukan kenapa Ditya bahkan mau repot-repot mengantarkannya, hingga aku sadar dia punya motif lain. Dia memohon padaku dari balik pagar, berkata kalau aku adalah harapan terakhirnya. “Gue nggak sengaja ngajak kenalan cewek, kemarin, di Jakarta waktu kalian ke Pangandaran. Ternyata cewek itu orang Bandung, dan dia ngajak gue ketemuan. Lo bantuin gue dong supaya tuh cewek nyerah.... Gue udah bilang gue ada cewek, tapi dia nggak percaya. Lo pura-pura jadi cewek gue deh sekali supaya dia kapok....”

“Ogah!” kataku langsung, tanpa basa-basi. “Lagian lo kok bisa sih dengan gatelnya ngegaet cewek di Jakarta? Mana yang lo bilang monogami itu?”

“Mana gue tahu kalau dia ternyata kenal Rein!” Ditya berseru frustasi. “Gue pikir semua orang ke Pangandaran!”

Monday, October 26, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kesebelas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kesebelas

Seluruh anak kelas dua diberi kesempatan untuk berdarmawisata ke Pantai Pangandaran di pertengahan tahun ajaran. Untuk pengecualian, anak-anak yang pernah mendapatkan hukuman setingkat lembar merah tidak diperbolehkan ikut.

Tentu saja tidak terlalu banyak murid yang pernah mendapatkan lembar merah; karena itu adalah termasuk hukuman kedua tertinggi. Kau sayangnya pernah mendapatkan lembar merah, ketika kau dan Ditya mabal dari hukuman perpustakaan ditemani ringtone Power Rangers waktu itu. Kau resmi tidak diperbolehkan untuk ikut ke Pangandaran, tapi tampaknya kau tidak terlalu peduli. Aksa bilang kau akan menggunakan waktu istirahat rumahmu untuk pergi menemani Ben survey gastrobar ke Australia. Kalian bermaksud untuk bekerja sama membuka semacamnya di Bali tahun depan.

Ditya dan Ben (yang lulus jauh sebelum kita) juga tidak pernah mengikuti acara semacam ini karena alasan yang sama. Tapi aku dan Aksa bukan tipe pelanggar peraturan, jadi kami diberikan kesempatan seperti yang lain. Aksa bahkan berkata kalau Rein yang seangkatan dengan kita juga akan ikut.

“Rein?” aku terkejut. “Rein ikut?”

Monday, October 19, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kesepuluh

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kesepuluh

Hari itu setelah mengantar kepergian Vivi, Ben mengantarku pulang ke rumah. Keesokan paginya, aku datang ke sekolah jauh sebelum bel berbunyi. Aku tidak bisa tidur. Kau duduk di kursiku, menungguku datang. Itu adalah untuk pertama kalinya kau masuk sekolah sejak kelas dua. Kau sedang menungguku.

Aku merasa deja vu, tapi kali itu kau tidak berada di sana untuk membaca binderku. Kau datang untuk mengatakan sesuatu, yang tampaknya juga dengan sulit kau ungkapkan secara gamblang.

“Denger,” katamu. “Soal Vivi dan gue... kita berdua udah kenal lama.”

Ada sesuatu dalam diri Vivi yang membuatmu ingin melindunginya; walaupun umurnya lebih dewasa. Mungkin karena Vivi adalah perempuan paling lembut yang kau tahu. Kau ingin melindungi dan mengayomi, itu adalah nalurimu. Kau ingin dia hanya ada untukmu, itu adalah egomu.


Monday, October 12, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kesembilan

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kesembilan

Aku terbangun dua minggu setelah aku naik ke kelas dua SMU dengan Pak Gianyar yang datang ke rumahku dengan terburu-buru. Eyang sedang duduk di teras depan dengan papan caturnya ketika Pak Gianyar datang. Ada selembar koran baru terbit yang diggenggam Pak Gianyar erat-erat, wajahnya menyimpan berjuta rasa yang siap meledak kapan saja.

Pak Gianyar memperlihatkan sebuah kolom pada Eyang, yang membuat Eyang melamun. Pak Gianyar menepuk pundak Eyang sambil menyerukan kata selamat, barulah Eyang berjingkrak-jingkrak dan memelukku.

Monday, October 5, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedelapan

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kedelapan

Kelas satu diakhiri dengan kau yang mendapatkan deretan nilai yang memuaskan pada mata pelajaran yang tadinya hampir membuatmu tinggal kelas. Delapan koma lima untuk Matematika, delapan untuk Fisika, delapan koma dua untuk Geografi, dan tujuh koma delapan untuk Akuntansi.

Pada Kimia kau mendapatkan lima koma sembilan, angka yang sebenarnya lumayan baik jika mengingat bagaimana kau menolak sama sekali untuk mempelajari apapun tentang Kimia. Bahasa Inggris-mu mendapat nilai sembilan koma delapan, nyaris sempurna, nilai paling tinggi satu angkatan.

Setelah pembagian rapor, kau mentraktir Aksa, aku, dan Ditya makan di Peinture. Secara resmi grup studi mingguan kita berakhir hari itu. Ben menyapa kedatangan kita dengan sebuah lambaian, sementara inderanya yang lain fokus pada lukisan yang ia kerjakan. Ditya mengelitiki tubuh Ben hingga ia menyerah dan bergabung bersama, dan kita semua tertawa hingga petang.

Being an Adult and Why I Ran Away From It

Hello all, Fenny here. :)

It's been a while. This post is for all of you out there who's too old to be a teenager, but barely an adult.

Who's struggling to face adult life, no matter how much you try to resist.

I know I am one of them, and my only emotional outlet is writing, so here goes....

I have siblings, but to be honest, we didn't really grow up together. I am immensely proud of my siblings — I brag about them all the time to my friends. That's just how much I love them, even though I know it's annoying. People say, you will subconsciously put a bit of yourself into your writing. For me, perhaps that is the brother figure that's always been there in all of my works.

But as much as I love them, I never really talk about life with them. There was that one time when I was confused on which path to take after high school, but that's about it. I always wonder at how my friends can talk about boy problems to their sister and mother. For me, when I cry because of boys for example, I turn to my friends.

I turn to them so much about so many things, until one point I realise, that I might have rely on them  too much. Especially when they have moved on with their lives and might not have as much time for me anymore.

How many times, have you been disappointed because you 'lose a friend' after they've got a boyfriend or girlfriend?


Monday, September 28, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketujuh

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori ketujuh

Hampir setengah tahun aku melewati jam istirahat dan akhir pekan bersama kalian, tapi sebenarnya sebanyak apa aku tahu tentangmu?

menjelang ulangan umum kenaikan kelas satu, kau dipanggil oleh Pak Ludo ke kantor guru sepulang sekolah. Kau diharuskan untuk menjalani hukuman membersihkan WC selama dua minggu, dua jam sepulang sekolah. Ditya mendapatkan hukuman yang serupa selama empat minggu. Pak Ludo tidak menghiraukan rengekan Ditya yang berkata kalau ia tidak punya waktu untuk hukuman semacam itu ketika ia seharusnya belajar untuk UAS.

Semua adalah karena Ditya menjahili seorang anak kelas satu bernama Topan, dengan menusuk-nusukan jangka ke bagian belakang punggungnya. Ada titik-titik merah karena jangka itu, tapi Topan yang gemuk sebenarnya tidak merasakan kesakitan berarti. Dia malah tidak menyadari apa yang Ditya lakukan, dan hanya bingung kenapa Ditya terus mengekornya. Kau hanya melipat tangan dan terkekeh terhibur di samping, seperti yang biasanya terjadi kalau Ditya sedang mengerjai seseorang.

Monday, September 21, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keenam

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keenam

Eyang selalu meyakinkan aku kalau jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap intelejensi seseorang. Ia percaya aku bisa lulus kuliah dengan summa cumlaude di kemudian hari. Dia mungkin terkadang lupa, kalau bahkan untuk membayar biaya makan saja kita kesulitan, apalagi membayar uang kuliah. 

Tapi aku tidak mengingatkannya.

Monday, September 14, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kelima

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!

.memori kelima

Pada suatu hari Minggu aku janji bertemu denganmu, Aksa, dan Ditya di Peinture. Kau menyebutnya grup studi, dan itu untuk pertama kalinya siapapun di muka bumi melihat kau bersemangat tentang pelajaran. Aku merasa kau sangat imut seperti itu, tapi sampai mati aku takkan mengakuinya.

Yang perlu dipertanyakan adalah keberadaan Ditya dalam grup studi. Dia pemegang nilai tertinggi di angkatannya, jadi jelas dia tidak memerlukan bimbingan belajar. Sebagai anak kelas tiga, ia sedang sibuk menyiapkan berbagai persiapan UAS dan UAN, juga tes masuk ke dalam universitas. Kalau dia berada di grup studi sebagai pengajar tambahan untukmu, aku takkan protes, tapi aku merasa hal semacam itu tidak mungkin diharapkan dari Ditya.

Monday, September 7, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keempat

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!
.memori keempat

Kita bertiga sedang duduk bersama di suatu jam istirahat untuk mengejar ketinggalan tugas kelompok Kimia. Karena memberikan nol besar untuk kontribusi, dan aku sempat meledak kesal ketika kau menolak untuk mengerjakan apapun.

“Nggak bisa gitu, dong!” kataku. “Masa gue dan Aksa yang harus kerjain kerjaan bertiga? Terus, lo belajar dari mana?”

Tuesday, September 1, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketiga

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!
.memori ketiga

SMU adalah kerajaan tidak kasat mata dengan kasta yang terbagi dengan kejam. 

Ditya adalah Raja Setan bodoh yang membiarkan rakyatnya malnutrisi (sejalan dengan keadaan OSIS dan event sekolah yang terbengkalai di bawah kepemimpinannya). 

Aksa adalah pendeta keliling yang menyejukkan hati para penderita kusta (tanpa bantuannya aku yakin banyak sekali orang yang gagal pada ulangan Matematika lalu). 

Dan kau, kau adalah pangeran asing yang sedang memperhatikan negara tetanggamu yang hampir hancur (sesuai dengan pandangan sinismu yang secara berkala kau lontarkan untuk membuat orang merasa direndahkan).

Aku hanyalah rakyat jelata yang mendapatkan lebih banyak pekerjaan dan tekanan daripada yang bisa aku tanggung, tapi aku memilih untuk lebih banyak diam. Kecuali ketika ada sesuatu yang benar-benar menginjak harga diriku seperti pada hari terakhir MOS itu, tentunya. Tapi pada umumnya aku menjaga jarak dengan semua orang. Kurasa itu adalah hal yang terbaik.

Monday, August 24, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedua

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!
.memori kedua
Aku memiliki sebuah buku binder dengan bagian tengah yang bisa dibuka. Kertas bisa dicabut atau ditambahkan ke dalamnya sesuai kebutuhanku. Sampul depannya bergambar menara Eiffel kesukaanku. Aku mendapatkannya dari Eyang pada ulang tahunku yang kelima belas. 
Aku tahu aku pada akhirnya akan menjadi seorang sarjana teknik, karena itulah satu-satunya cara agar aku mendapatkan gaji yang cukup untuk membiayai diriku sekaligus Eyang. Tapi bahkan pada saat SMU aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, kalau aku terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam dunia yang aku ciptakan sendiri. Aku suka menulis.

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori pertama


Halo semua, lama tidak bersua. Fenny berbicara di sini. 

Naskah yang ini adalah gubahan dari Raindrops (mungkin yang dulu rajin mengunjungi sini tahu tentang cerita satu itu). Hari ini saya melihat isi memori komputer dan menemukannya. Saya berpikir, kenapa membiarkannya berlumut seperti ini?

Jadi di sini saya melepas naskah ini ke dunia, walaupun tahu dengan yakin saya akan mengundang kemarahan banyak orang yang membacanya sampai selesai. Naskah ini, harus saya tegaskan dari awal, ditulis dengan sepenuhnya keegoisan saya. Naskah ini tidak mengikuti premis pembuka-masalah-penyelesaian seperti yang 'seharusnya', tetapi bagi saya naskah ini sudah selesai.

Potongan hidup sulit ketika menulis naskah ini juga sama-sama sudah saya tinggalkan.

Selamat menikmati.

***


Aku telah memutuskan kalau untuk melepaskanmu, 
yang aku butuhkan adalah berhenti berusaha melupakanmu. 

Sebaliknya, aku akan mengingat segala tentangmu, 
dari awal hingga kita berpisah jalan. 


***
.memori pertama

Kau melewati masa-masa orientasi SMU berbeda dengan murid lain. Salah satu dari teman sekelompokmu adalah ketua OSIS, dan tentu saja kau diberikan keringanan. Tidak seperti murid kelas satu lain yang dijemur di bawah terik matahari dan diperintah untuk mengikat rumput liar dengan karet rambut, kau duduk santai di kantin.

Kau bermain dalam satu kelompok yang telah kau kenal sejak kalian kecil. Orang bilang ketiga keluarga kalian bersahabat, tapi aku juga tahu kalian tinggal berdekatan. Saat itu aku merasa kalian begitu jauh, hingga rasanya aneh sekali ketika tahu bertahun-tahun kemudian, aku menjadi bagian dari kelompok itu.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...