Sunday, November 18, 2012

Lapis Lazuli Giveaway Winner


Biondy Alfian 
For leaving a blog post comment.
You will get 1 autographed copy of Lapis Lazuli!
Congratulations! :)

Send your address to wongfenny (at) gmail.com as soon as possible please. 

Buat yang belum beruntung, jangan kecewa, ya! 
Terima kasih semuanya yang sudah ikutan dan mencoba peruntungan.

xxx
Fenny Wong

Thursday, November 1, 2012

Novel Review: Canting Cantiq (Kos-kosan Soda #1)




Judul: Canting Cantiq (Kos-kosan Soda #1)
Penulis: Dyan Nuranindya
Tanggal Terbit: Maret 2011
ISBN: 979-780-472-0

“Buat gue kebaya itu kuno. Kayak mbok-mbok tukang jamu yang ada di komplek rumah gue. Apalagi batik. Gak meriah. Kesannya kumel tapi norak. Pokoknya gitu deh! Gue nggak perduli kalau orang bilang gue nggak cinta produk Indonesia. Kerenan juga baju-baju dari luar negeri. Kenapa Paris Hilton bisa kelihatan keren? Kenapa Victoria Beckham bisa jadi icon fashion dunia? Jawabannya cuma satu, MEREKA NGGAK PAKAI KEBAYA ATAU BATIK!” 

 Melanie Adiwijoyo adalah putri tunggal pengusaha terkenal Aryo Adiwijoyo. Punya panggilan miss perfect karena cantik, kaya, otak encer dan punya fashion taste yang keren banget. Mel, paggilan akrab Melanie, punya mata elang untuk mendeteksi gaya berpakaian seseorang. Cita-citanya tak pernah berubah. Jadi Model International yang menyaingi Victoria Beckham di red carpet. 

 Namun tiba-tiba musibah itu terjadi. Perusahaan ayahnya bangkrut dan Mel terpaksa dititipkan ke rumah Eyang Santoso di Jogja. Ya, Yogyakarta. Hal itu membuat Mel shock berat. Apalagi pas tahu kalau ternyata rumah Eyang Santoso telah berubah menjadi kos-kosan yang berisi orang-orang dengan kelakuan dan gaya berpakaian yang superduper aneh. Sangat norak dan kampungan menurutnya. Ada Saka, cowok Jawa yang selalu berpakaian kemeja lurik mirip kayak Pak kusir. Ada Jhonny yang selalu bergaya jadul yang demen banget pakai warna ngejreng dan norak. Belum lagi Aiko, cewek berwajah oriental yang sering mengenakan cardigan kebesaran, Dara yang bergaya sangat rocker, Dido yang mirip tokoh kartun Fido Dido berkacamata dan Ipank, cowok pecinta alam yang sangat kurang ajar. Namun di antara orang-orang aneh itu, ada cowok bernama Bima yang terlihat paling normal. Sayangnya, Bima sangat pendiam dan susah ditebak. Tipikal cowok yang nurut-nurut aja. Tapi setidaknya Bima bisa membuat Mel sedikit melupakan Marco, cowoknya yang brengsek itu. 

 Sanggupkah Melanie hidup di lingkungan barunya? Apalagi ia bertemu dengan desainer kebaya bernama Aryati Sastra yang keukeuh banget mangajari dia menjahit. Menjahit? No way! Calon model internasional kan nggak perlu susah payah belajar menjahit! Apakah Melanie berhasil mencapai cita-citanya untuk jadi model internasional? Temukan semuanya hanya di Canting Cantiq.

----------------------------

Jadi, menurut Fenny....

Bertahun-tahun setelah saya membaca Dealova, saya kembali menikmati karya Dyan Nuranindya. Dealova adalah teenlit pertama yang saya baca: bahasanya nyeleneh, khas anak muda, ngalir dan cheeky. Gaya ini tetap melekat pada Canting Cantiq. Setelah membaca novel-novel roman keluaran Gagasmedia (yang sejauh ini saya baca rata-rata mellow, kecuali Pillow Talk), ini jadi angin segar juga.

Saya agak-agak shock juga sih, dengan dialog satu paragraf yang semuanya memakai capslock, atau dengan tanda seru yang lumayan banyak. Yah, tapi saya bisa mengerti, karena keseluruhan mood cerita lumayan upbeat. Banyak referensi terhadap hal-hal yang terkenal di sini, membuat novel ini sangat nge-pop. Novel ini juga mengusung tema batik, kebaya, dan fashion nusantara. Untuk yang tahu saya berkuliah di bidang fashion, pasti mengerti sekarang kenapa saya jadi tertarik ekstra untuk membacanya....

Canting Cantiq sendiri sebenarnya menceritakan tentang kehidupan Melanie Adiwijoyo selepas ayahnya bangkrut. Ia di-ship ke Yogyakarta (yang disebut 'Jogja' di sepanjang cerita. Yang baku itu Yogya, kan? Correct me if I'm wrong, tapi saya kira Jogja itu adalah kota Yogya disebut pakai nada kental Jawa). Di sana dia harus berubah total dari Mel yang manja menjadi Mel yang mandiri. Mel yang mendapatkan semuanya for granted, menjadi Mel yang harus berjuang untuk yang ia inginkan.

Mel bertemu Aryati Sastra, desainer kebaya yang 'nge-scout' dirinya di sebuah fashion show. Bukan untuk menjadi model, tapi untuk menjadi muridnya, seorang fashion designer. Awalnya saya bingung, lah, gimana caranya bisa melihat seseorang berbakat menjadi seorang desainer hanya dari pakaian yang ia pakai? Iya, style itu tidak bisa dibeli, tidak bisa diajari. Jadi style Mel yang bagus itu adalah modal. Tapi believe me, jadi seorang desainer itu butuh LEBIH dari sekedar style! 


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...