Thursday, September 27, 2012

Movie Review: Amélie



Tahun: 2001
Bahasa: Perancis (cari yang dengan subtitle ;D )
Rated: R for sexual content
Amelie, an innocent and naive girl in Paris, with her own sense of justice, decides to help those around her and along the way, discovers love.




Pertama kali saya tahu tentang film ini adalah pada suatu sore, ketika saya terjebak di dalam ruang kelas dingin di depan komputer-komputer yang menyala. Sembari menunggu murid-muridnya menyelesaikan tugas, dosen saya memutar lagu dari film ini. Hanya instrumental, tapi cukup untuk menarik perhatian saya. Lagunya  mendayu, diiringi suara piano dan campuran akordion... khas Perancis. Dan juga, entah mengapa, mengingatkan saya pada game-game Professor Layton, yang ternyata sangat jauh dari apa yang film ini kemudian tawarkan.

Penasaran, saya mendownload film ini di rumah. Berminggu-minggu saya tidak menyentuhnya, hingga tadi sore. Saya merasa ada sesuatu yang perlu membangkitkan inspirasi saya --- karena sudah lama saya tidak menggambar. Apa yang dosen saya suka tentunya ada hubungannya dengan seni (dia tipe orang seperti itu), dan seharusnya, membangkitkan keinginan saya untuk menarik palet-palet cat air saya dari dalam lemari.

Amélie bercerita tentang seorang gadis yang tumbuh kesepian. Ayahnya percaya bahwa jantungnya lemah, maka dari itu ia tidak bisa pergi ke sekolah seperti anak-anak kebanyakan. Ibunya meninggal mendadak, membuat sifat introvert Amélie semakin menjadi. Sebagai gadis yang dewasa ia kemudian meninggalkan rumah dan tinggal sendiri. Hidupnya sepi, dan ia mulai belajar bagaimana menghargai hal-hal kecil dalam hidup.




Hingga suatu hari, tepatnya 31 Agustus 1997, Amélie terkaget dengan kabar kematian Lady Diana di televisi. Benda yang saat itu digenggamnya terjatuh, menghantam sebuah panel lantai di kamar mandinya. Karena hantaman itulah panel itu terbuka, dan memperlihatkan sebuah kotak di dalamnya. Kotak seng usang, yang ditanam di sana mungkin sekitar 40 tahun yang lalu, berisi mainan-mainan anak. Harta karun seorang anak kecil yang terlupakan.

Tuesday, September 25, 2012

Hanami Trivia: If Made into a Drama, Then....

Iseng-iseng, sebagai lanjutan seri Hanami Trivia. Seri sebelumnya bisa dilihat di post ini. :3

Jadi, jadi, Ini adalah yang ada di bayangan saya kalau Hanami di film-kan di Jepang sebagai sebuah dorama.... #ngayal

WARNING~ 
Yang belum baca Hanami disarankan untuk tidak melihat post ini lebih lanjut, karena mungkin membuat imajinasimu terhambat dengan sodoran foto-foto artis Jepang dan segala gosipnya yang saya sediakan :3

Saya hanya akan menunjukkan tentang tiga tokoh utama...: Sakura, Jin, dan Keigo. Soalnya kalau saya kasih foto tentang karakter lain dan kasih deskripsi kenapa saya pikir aktor itu cocok untuk karakter tersebut, nanti saya tambah spoiler. Siapa tahu aja, setelah warning merah di atas masih ada yang penasaran lihat, hihi.

Yang paling menggambarkan Sakura, sang heroine, mungkin adalah....



Toda Erika!

Saya pertama kali lihat Erika di film Nobuta wo Produce. Bukan sebagai pemeran utama, tapi sebagai tokoh cewek sampingan: bukan villain, cuman kayak... tipe cewek yang ditakdirkan untuk tidak bersama si tokoh utama cowok. Lol. Lalu saya melihat dia lagi di film yang lebih bernuansa romantis.... Tatta Hitotsu no Koi. Kali ini jadi temen deket cewek tokoh utama.

Dan entah kenapa, cewek cantik ini sering banget dapet peran girl next door yang semangat merebut cowok tokoh utama dari cewek tokoh utama. Hal itu terjadi pada drama Hana Yori Dango 2 dan Kurosagi.
Anehnya ini nggak membuat saya muak sama dia, malah tambah jatuh cinta.

Tapi mungkin kebanyakan orang nonton dia dan kenal sama dia dari film bioskop Death Note sebagai Misa Amane. Diadaptasi dari komik yang sensasional berjudul sama (salah satu komik shounen terbaik yang pernah saya baca! Tambahkan seribu tanda seru di belakang kalimat terakhir saya itu, terima kasih.)


Sunday, September 23, 2012

Simfoni Dewata

Author's Note: Cerita ini ditulis untuk latihan, eksperimen, sekaligus mengikuti ajang lomba bulanan di Kastil Fantasi Goodreads. :)
Entri untuk Bulan September pada ajang yang sama bisa dibaca di Blanche Adnet.

Jadi gaya penulisan cerita ini adalah yang pertama kali untuk saya. Sedikit banyak terdampak oleh bacaan terakhir saya, The Name of This Book is Secret oleh P. Bosch, dan A Series of Unfortunate Events-nya Lemony Snicket.

Enjoy. :)

-----------------------------------------------------------



Simfoni Dewata


Di antara kehampaan, banyak titik warna-warni muncul menghiasi. Kalau ibumu adalah seorang kolektor lukisan, mungkin kau akan menebak cerita ini adalah tentang karya George Seurat (tidak, jangan membuka mesin pencarimu di internet. Baca saja cerita ini, oke?). Sebaliknya, kalau keluargamu memiliki toko elektronik, mungkin kau akan terpikir bagaimana televisi mengeluarkan titik warna-warni ketika programnya rusak. Semuanya salah, karena yang menunggumu untuk alinea-alinea ke depan adalah sebuah pertunjukkan orkestra. Atau lebih tepatnya, sebuah kontes kecantikan. Tunggu — atau mungkin keduanya: orkestra kontes kecantikan. 

Masuk akal? 

Tidak. 

Tapi tidak apa-apa. Cerita tidak perlu masuk akal untuk menjadi menarik. 

Orang tuamu mungkin akan senang mendapatimu membaca cerita ini, karena di dalamnya ada pengetahuan tentang bagaimana segalanya bermula. Itu, 'kan, yang selalu dipertanyakan orang-orang dewasa? Kalau kau sepertiku, melewati jam-jam membosankan dalam kelas IPA, kau akan mengenal seseorang bernama Darwin — yang mencetuskan ide gila bahwa semua orang berasal dari primata. Itu, adalah salah satu usaha terpayah dalam mencari kebenaran tentang awal mula. Jika benar manusia berasal dari monyet, maka tidak perlu ada salon yang menyediakan wax. Tidak akan ada yang peduli jika kau berbulu. Darwin benar-benar harus membaca cerita ini.

Jadi di kehampaan sana, ada titik-titik warna-warni. Jika dilihat dari dekat, kamu akan mendapati sebenarnya hanya ada lima titik. Lima dewa-dewi, biarkan aku meralat. Mereka terlihat seperti titik karena dilihat dari jauh, tapi kini kita telah mendekat. Untuk mendengar menguping apa yang sedang mereka bicarakan.



Saturday, September 22, 2012

Book Review: Weird Things Customers Say in Bookstores


Judul: Weird Things Customers Say in Bookstores
Penulis: Jen Campbell
Illustrator: The Brothers McLeod
Penerbit: The Overlook Press, New York
Sinopsis:
From the hugely popular blog, a miscellany of hilarious and peculiar bookshop moments:
'Can books conduct electricity?'
'My children are just climbing your bookshelves: that's ok... isn't it?'
A John Cleese Twitter question ['What is your pet peeve?'], first sparked the 'Weird Things Customers Say in Bookshops' blog, which grew over three years into one bookseller's collection of ridiculous conversations on the shop floor. From 'Did Beatrix Potter ever write a book about dinosaurs?' to the hunt for a paperback which could forecast the next year's weather; and from 'I've forgotten my glasses, please read me the first chapter' to'Excuse me... is this book edible?'
This full-length collection illustrated by the Brothers McLeod also includes top 'Weird Things' from bookshops around the world.


Jadi, menurut Fenny....


Buku ini... lucu! Berisi tentang semua keanehan yang terjadi di dalam toko buku, disusun dalam percakapan-percakapan singkat antara customer dan bookseller. Untuk edisi USA yang saya baca, juga dimasukkan percakapan-percakapan aneh yang terjadi di toko-toko buku USA. Tapi yang paling lucu adalah yang sang pengarang, Jen Campbell, tulis.

Campbell adalah penjaga toko buku selama ia kuliah dan setelah ia lulus kuliah; hingga saat ini. Buku ini adalah kumpulan pengalaman asli dia. Awalnya ia menyebutkan tentang pengalaman-pengalamannya di Twitter, lalu mulai mengumpulkannya. Kemudian Neil Gaiman melihat hasilnya dan boom! New York Times bestseller pun lahir.

Kalau kamu juga seperti saya, berpikir menjual buku atau mengurus perpustakaan itu sepi, dan not-so-interesting. Pandangan kamu akan... berubah, seratus delapan puluh derajat! :D *okay I am starting to sound like a salesperson now*

Tapi. Kalau kamu adalah seseorang yang mencari humor ringan, tapi hampir nggak pernah membaca buku lain sebelumnya, kamu nggak bakal ngerasa buku ini lucu. Buku ini hanya lucu jika kamu suka membaca, atau setidaknya tahu banyak tentang literatur klasik dan pop. Bukan berarti saya membatasi jenis pembaca yang bisa menikmati buku ini, tapi jika kamu tidak tahu buku-buku yang dibicarakan di dalam leluconnya, leluconnya nggak bakal terasa lucu lagi.

Contohnya, ada satu quote di dalam buku ini yang bikin saya ketawa-ketawa sendiri di dalam MRT. Nggak peduli kalau disangka orang gila.

Customer: Do you have any books on the dark arts?
Bookseller: ....No.
Customer: Do you have any idea where I could find some?
Bookseller: Why don't you try Knockturn Alley?
Customer: Where's that?
Bookseller: Oh, the center of London.
Customer: Thanks, I'll keep my eyes peeled for it.


*selesai ngakak*

Jadi, begitu loh maksud saya. Kalau kamu tidak pernah baca Harry Potter, atau hanya penggemar kasual yang nonton filmnya tapi tidak ingat nama-nama yang ada di dalam kisahnya, quote di atas tidak akan terasa lucu....


Alamat Redaksi Koran dan Majalah



Post yang ini untuk kamu semua yang sukanya nulis puisi atau cerpen. 

Saya menemukan daftar ini pada salah satu grup pembaca buku, dan sejujurnya agak kaget dengan jumlahnya yang banyak. Dibanding membiarkan semua dokumen itu berlumut di dalem komputer, mungkin ada bagusnya kamu mulai kirim ke salah satu redaksi koran atau majalah di bawah ini? 

Detail terkait dengan jumlah honor yang dterima mungkin bisa berubah sewaktu-waktu dan berdasarkan keputusan redaksi yang kamu tuju. Daftar ini hanyalah acuan awal untuk kamu.

Ingat, riset dulu tentang redaksi yang ingin kamu tuju. Jangan sampai kamu mengirimkan cerpen tentang fabel dan binatang yang berbicara ke Femina. Lha, jelas ditolak. Yang begitu mungkin lebih cocok untuk Majalah Bobo. Sebaliknya, cerita tentang ibu rumah tangga dan intrik domestik keluarga akan pas di Femina, tapi tidak akan cocok dikirimkan ke Majalah Gadis. 

So... selamat menulis dan mengirim! ^^

---------------------------------------------------------------------------------


1. Republika

sekretariat@republika.co.id, aliredov@yahoo.com

Tidak ada pemberitahuan dari redaksi terkait pemuatan cerpen.
Sudah lama tidak memuat puisi. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong  pajak), tetapi—pengalaman beberapa rekan penulis, harus sabar menagih ke  redaksi beberapa kali agar segera cair.

2. Kompas

opini@kompas.co.id, opini@kompas.com

Ada konfirmasi pemuatan cerpen/puisi dari redaksi via email. Honor  cerpen Rp. 1.o00.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,-  (tanpa potong pajak–referensi Esha Tegar Putra), seminggu setelah  pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

3. Koran Tempo

ktminggu@tempo.co.id

Biasanya Nirwan Dewanto—penjaga gawang rubrik Cerpen Koran Tempo,  meng-sms penulis terkait pemuatan cepen/puisi jika penulis mencantumkan  nomer hp di email pengiriman. Honor cerpen tergantung panjang pendek  cerita, biasanya Rp. 700.000,- honor puisi Rp. 600.000,- (pernah Rp.  250.000,- s/d Rp. 700.000, referensi Esha Tegar Putra), ditransfer  seminggu setelah pemuatan.

4. Jawa Pos

sastra@jawapos.co.id

Jawa Pos menerima karya-karya pembaca berupa cerpen dan puisi atau  sajak. Cerpen bertema bebas dengan gaya penceritaan bebas pula. Panjang  cerpen adalah sekitar 10 ribu karakter. Honor cerpen Rp. 1.o00.000,-  (potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (referensi Isbedy Stiawan Zs),  ditransfer seminggu setelah cerpen/puisi dimuat.

5. Suara Merdeka

swarasastra@gmail.com

Kirimkan cerpen, puisi, esai sastra, biodata, dan foto close up Anda.  Cerpen maksimal 9.000 karakter termasuk spasi. Honor cerpen Rp.  350.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 190.000,- (tanpa potong  pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan  honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen. Bisa diambil langsung ke  kantor redaksi atau kantor perwakilan redaksi di kota Anda—jika ada.

Wednesday, September 19, 2012

Book Review: The Name of This Book is Secret


Judul: The Name of This Book is Secret (ternyata juga diterbitkan oleh Elex Media di bawah judul Judul Buku ini Rahasia)
Penulis: Pseudonymous Bosch (brilliant pen name, really....)
Illustrator: Gilbert Ford
Penerbit: Little Brown Books
Website resmi: http://thenameofthiswebsiteissecret.com
Sinopsis belakang buku (dari versi Inggris yang saya baca):

This is a story about a secret,
But it also contains a secret story.
When adventurous detectives Cass, and ever-vigilant survivalist, and Max-Ernest, a boy driven by logic, discover the Symphony of Smells, a box filled with smelly vials of colorful ingredients, they accidentally stumble upon a mystery surrounding a dead magician's hidden diary and the hunt for immortality.

Filled with word games and anagrams and featuring a mysterious narrator, this is a book that won't stay secret for long.

Sinopsis (versi Indonesia):

"PERINGATAN: JANGAN BACA HALAMAN BERIKUT INI! Dan, jangan main-main, buku ini sangat berbahaya. Tidak, bukannya buku ini bisa meledak di hadapanmu. Atau menggigit kepalamu sampai putus. Atau mencabik-cabikmu. Mungkin sama sekali tak akan mencederaimu. Kecuali seseorang melempar buku ini ke arahmu, dan kemungkinan seperti ini tidak boleh ikut diperhitungkan. 


Pada pokoknya, buku ini tidak membahayakan. Kecuali ketika kau membacanya, itu saja. Karena bisa mendatangkan macam-macam masalah. Sebagai contoh, buku dapat mendatangkan ide. Aku tak tahu apakah sebelumnya kau punya ide atau tidak, tapi kalau kau punya, kau tahu betapa banyak kesulitan yang ditimbulkan oleh sebuah ide. Buku juga dapat menyulut emosi. 


Dan terkadang emosi bahkan lebih menyulitkan daripada ide. Emosi dapat menyebabkan seseorang melakukan segala hal yang kemudian mereka sesali-seperti, ya, melemparkan buku pada orang lain. Tapi alasan utama buku ini sangat berbahaya adalah karena memuat sebuah rahasia. Rahasia besar."


--------------------------------------------------------------------------
Jadi, menurut Fenny....

Mungkin ada di antara kalian yang tahu kecintaan saya yang dalam pada A Series of Unfortunate Events (sebut saja SoUE dari sekarang) oleh Lemony Snicket. 

Ada satu entri di blog saya di sebelah yang mungkin bisa menjadi bukti akan itu. Seri itulah yang membuat saya jatuh cinta pada buku-buku Young Adult, dan memperkenalkan saya pada seri lain yang hampir sefantastik seri oleh Snicket itu: The Mysterious Benedict Society oleh Trenton Lee Stewart.

Loh, tapi ini kan buku The Name of This Book is Secret (sebut aja TNTBS dari sekarang, capek deh ngetiknya....), bukan seri yang disebutkan di atas. Lalu apa hubungannya? 

Sebenarnya, kalau saya belum pernah membaca kedua buku di atas, saya akan kasih buku oleh Pseudonymous Bosch ini 5 dari 5 bintang. Straight five stars! Alasan utamanya adalah karena terlalu banyak aspek dalam TNTBS yang terinspirasi dari kedua seri di atas. Kalau kamu seperti saya yang mencintai aSoUE, kamu pasti familiar dengan gaya menulisnya yang selalu menyarankan pembaca untuk menjauh dari bukunya. Sebagai usaha saya untuk meyakinkan kalian yang belum membaca, biarkan saya memberikan sebuah kutipan dari salah satu buku aSoUE:


It is my sad duty to write down these unpleasant tales, but there is nothing stopping you from putting this book down at once and reading something happy, if you prefer that sort of thing.  -- The Bad Beginning (aSoUE #1)


If you are looking for a story about cheerful youngsters spending a jolly time at boarding school, look elsewhere.  -- The Austere Academy (aSoUE #4)

Lalu sekarang mari kita buka buku TNTBS yang sedang saya review. Bandingkan dengan kalimat-kalimat ini:


You're curious. You're brave. And you're not afraid to lead a life of crime. But let's get something straight; if, despite my warning, you insist on reading this book, you can't hold me responsible for the consequences.

Dan kalau itu masih belum cukup, judul kedua dari seri ini adalah If You're Reading This, It's Too Late.

Ide dari reverse psychology yang membujuk untuk tidak membaca untuk membuat pembaca penasaran dipakai di kedua seri yang saya bandingkan ini. Dan bukan hanya itu kesamaan yang mencolok. Sebagai fans sejati aSoUE, saya hapal beberapa kata unik yang digunakan oleh Snicket dalam aSoUE. Salah satunya adalah kata 'denouement', nama hotel di mana buku kedua belas aSoUE, The Penultimate Peril, bersetting. 

Hanami Trivia 1: Delicacies

Q: Ada berapa banyak jenis makanan khas Jepang yang disebutkan dalam Hanami?



Keigo dan Sakura bergantian menyiapkan makanan sehari-hari. Dibuka di awal, Keigo sedang menyiapkan sup miso. Sup ini, ternyata, saya temukan dalam bentuk pasta yang tinggal diseduh di supermarket-supermarket Singapura. 


Ada juga bentuk serbuk dengan isinya yang dikeringkan, siap saji setelah seduh. Ternyata, miso sebenarnya memang berbentuk pasta, terbuat dari biji kedelai yang difermentasi.




Dango menjadi salah satu makanan yang paling sering disebutkan. Dango tiga warna yang digenggam oleh ibu Sakura di dalam foto adalah hanami dango. Warnanya hampir selalu berurutan dari bawah: hijau, putih, pink. Arti di baliknya, warna pink melambangkan bunga sakura. Warna putih melambangkan arak beras. Warna hijau melambangkan daun yomogi. Salah satu jenis lain yang dibicarakan adalah mitarashi dango, yang disuguhkan untuk Sakura ketika nenek meminjamkannya telepon. Jenis dango ini dimakan dengan saus yang berasa manis.

Tuesday, September 18, 2012

Quote of the Day

The best footnote ever.

A little-known fact about Mussolini is that he was also a novelist. To me, this makes perfect sense. The writer of a novel is like the dictator of the novel; he makes all his characters do exactly what he wants them to do, and say exactly what he wants them to say. But please don't draw any conclusions about the kind of people who write novels. After all, not all novelists are power-hungry madmen --- some are power-hungry madwomen. 

-- Pseudonymous Bosch in The Name of This Book is Secret 

Monday, September 17, 2012

Just Thought That This Would be Interesting

Came across this in Google+ sometime ago.
I could actually read this without difficutly.
It's fun.


Manga Spotlight: Wataru Yoshizumi works (2)

Jadi di post sebelumnya saya sudah cuap-cuap sedikit tentang karya-karya Yoshizumi-sensei.
Di sana saya tulis tentang karya Yoshizumi yang terakhir saya baca adalah Spicy Pink, Cherish, dan Kimi Shika Iranai (Ternyata judul dari penerbit Indonesianya itu With You Only). Nah, karena di post pertama saya udah ngomongin Spicy Pink, jadi di post ini saya bakal ngomongin yang dua terakhir. ^^


Pertama soal Cherish. Waktu baca awal-awalnya, masih normal. Kayak cerita remaja biasa. Tapi lalu orang tua si tokoh utama cewek mati, dan si cewek jadi diurus oleh cowok bishie yang nggak jelas hubungan darahnya dengan si cewek. Lalu saya berhenti di sini. Lah, kok, mirip Hanami?!

Saturday, September 15, 2012

Giveaway Spree! Whee!

Hi everyone!
Have fun with this giveaway. Buat yang belum mengkoleksi Fleur atau ingin segera mendapatkan Hanami, this is for you.

Edited on 18th September 2012: (just thought that I should have made this clear enough)
1. Pengiriman buku hanya ditujukan untuk yang berdomisili di Indonesia.
2. Keputusan pemenang tidak bisa diganggu gugat.
3. Peserta boleh ikut kedua giveawaynya. Namun, peserta yang telah memenangkan satu buku takkan memenangkan buku yang lainnya. (Pemenang untuk kedua buku akan berbeda) Kalau kamu mengincar satu buku saja dan tidak mau yang lainnya, ikuti satu giveaway saja. Tapi tentu saja, ikut keduanya akan meningkatkan kemungkinan menang kamu.
4. Pemenang akan diumumkan pada 21 Oktober 2012 pukul 09.00 pagi di blog ini. Pemenang akan dihubungi untuk dimintai alamat pengiriman hadiah. Ongkos pengiriman akan saya tanggung.
5.Jika dalam jangka waktu 1 minggu pemenang tidak mengabari balik, maka pemenang baru akan dipilih.

Buku hadiah akan dibubuhi tanda tangan atau tulisan lain dari saya (well, siapa tahu kamu hadiahkan untuk seseorang, dan ingin nama dia di sana?) as you wish. Just ask away. ^^


a Rafflecopter giveaway a Rafflecopter giveaway

Friday, September 14, 2012

Manga Spotlight: Wataru Yoshizumi works (1)

Sejak kecil, saya sudah suka menggambar. Sebelum saya mulai menulis novel, saya pernah berangan-angan untuk menjadi penulis komik ala Jepang, seorang mangaka. Cita-cita itu lalu kandas ketika saya sadar menggambar karakter secara konsisten dari satu panel ke panel lainnya adalah tugas yang... hampir tidak mungkin untuk saya. *teplok jidat

Sepanjang sekolah menengah saya sering sekali beli manga di Mas-Mas emperan yang suka jualan di depan sekolah, sampai pada akhirnya saya kayak temenan sama dia. Hingga suatu hari saya menemukan yang namanya manga scan di internet lalu mulai mengkhianati dia (maafkan saya, Mas). Yang dijual di emperan pada tahun-tahun SMA terakhir saya banyaknya bukan terbitan Elex Media atau penerbit besar lainnya. Kebanyakan tampak diterbitkan oleh penerbit yang berskala jauh lebih kecil, dengan kualitas terjemahan dan grafis yang sangat mengecewakan. Bahkan hasil jilid-an bukunya pun nggak rata. Itu juga jadi salah satu alasan saya mengkhianati si Mas (maafkan saya, Mas). 

Yah, well, sebagai pembelaan, walaupun saya sekarang membaca manga scan atau raw manga yang Mandarin, saya masih beli manga terbitan penerbit resmi, kok. Terutama yang ceritanya saya suka, dan yang sudah saya koleksi. Rasanya kalau ceritanya bagus, saya sangat rela untuk menyumbangkan bentuk apresiasi saya untuk sang penulis lewat royalti, hehe. And they look really well when stacked up on my bookshelf, too. :3

Nah, jadi mangaka yang ingin saya bahas kali ini adalah... Wataru Yoshizumi. Karyanya yang pernah diterbitkan m&c di Indonesia dan saya koleksi bentuk jilidnya adalah Mint na Bokura (We are Twins) dan Ultra Maniac. 



We are Twins menceritakan tentang... kembar (*ya eyalahh*), sedangkan Ultra Maniac tentang penyihir. Dua-duanya bikin saya ketawa-ketawa, dan target pembacanya tergolong muda, untuk anak-anak SMP-SMA. Ringan, enak dibaca, tapi nggak se-fluffy manga cewek kebanyakan. Memang, ada sih, adegan-adegan klise, tapi nggak ter...abuse seperti di kebanyakan manga lainnya.

Sunday, September 9, 2012

Catatan Pengembaraan #2: Treasures of Aga Khan, etc.


Religion, in the small island of Singapore, is highly varied from one individual to another. The island itself is constantly referred and compared to the traditional delicacy, 'rojak' --- mixture of different kind of fruits drenched in peanut sauce. Just like 'rojak', Singapore contains a mixture of race and identity. In the last five years, the island immigrants has increased dramatically, to top off many previous residents that immigrated from countries such as China, Indonesia, and Malaysia.
The variety of residents lead to a pleasantly open view to the ways of life, as well as religion. In this occasion we shall talk more about the Islamic Art Exhibition that is currently still being held in Asian Civilisation Museum until October 26th of this month.  The museum can be reached in a short walking distance from Raffles Place MRT station, situated just across the small river.
Having known the quality of the museums here, not surprisingly the collection of islamic treasures displayed in the museum was remarkable. The exhibition halls were divided by the place from which the treasure was taken. From there on there were further divisions. One good example was that a corner was devoted for treasures that took up Arabic words as decoration. 


Thursday, September 6, 2012

What They Say of Fleur



Jadi, mungkin pada bertanya-tanya gambar apa di atas?

Apa, pada akhirnya, Fenny akan me-review buku, secara lengkap dan dengan tata bahasa yang benar?!

No, sorry to break all your little hearts, my dear, but I'm not gonna review anything just yet... 
I would love to, but words just would not come out when I try to!
So instead of staring blankly at my screen, trying to think about describing how much I love that paragraph in the book I try to review, I usually just go back writing my own thing....

Anyway. :D

Gambar di atas diambil dari website IKAPI. Ternyata Fleur menang juara 2 Lomba Desain Kaver di acara Islamic Book Fair yang diadakan beberapa waktu yang lalu. Buku-buku yang diletakkan di sampingnya adalah nominasi lainnya untuk kategori lomba ini. Sejauh ini, Fleur mendapatkan feedback yang baik soal kaver. Saya senang, sekaligus lega. Kenapa lega? Karena saya selalu khawatir dengan nasib kaver setiap naskah-naskah saya yang diputuskan terbit.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...