Tuesday, June 28, 2011

Review: Norwegian Wood


 

Title: Norwegian Wood
Author: Haruki Murakami
Translated by: Jay Rubin
Copyright © Haruki Murakami 1987
English Translation © Haruki Murakami 2000

I was holding my discount coupon from my bookstore membership and strolling around, searching for something that catches my eye to be my next indulgence. I wanted something a little bit more mature and deep. Then I got across Norwegian Wood by Haruki Murakami.

My version got a cover that didn't exactly scream dark and mature -- a photograph of a couple face to face in the coldness of winter, yet it did give off that gloomy vibe. I didn't suspect it until I flipped the first chapter. Talking about psychological problems, twisted with social culture and political issues, the overall vibe of gloomy conversations and narrations.... I was not prepared, but it didn't strike me as odd. It would be surprising if this award-winning novel by Murakami was about simple love triangle.

The story itself was more of a slice of life (Norwegian Wood usually called as the writer's autobiography, which Murakami denied). It is fascinating to see how Murakami made the life of Toru interesting, the characters linked to one another not by dramatic encounters, but with rather realistic approach. It feels like we're listening to somebody's honest talk about their life, and realize that everybody's life is interesting and unique.

I couldn't make any connection whatsoever to the quiet main character Toru Watanabe, but I found my self getting fond of the character Midori -- which made me laugh so much throughout the book. A comical character in a gloomy novel: so out of place, yet so fresh. The other characters had this depth into them also, every single of them had their quirkiness and flaws, they also were all twisted in some way. It kind of bothered me how Murakami implemented so much psychological problems into the characters though. 

Murakami gave me a lesson on how to portray Japan's culture in words, which I have tried and failed completely. He also showed me how to really build a character, how to add depth into them. But perhaps, the overall theme was a little bit too mature and too dark for the romantic teenager like myself.

Tuesday, June 14, 2011

Ritual Dewa Kematian (FINAL VERSION)

UPDATE: Opsi kedua untuk Fantasy Fiesta 2011, yang pada akhirnya tidak kukirim.
Ini adalah versi final dari cerpen ini, selamat menikmati. :)


---------------------------------------------



Ritual Dewa Kematian







Sebuah cadar putih gading, sebuah replika memori.

Untaian perasaan yang hanya sebatas kekejaman tak tertandingi.

Jika semua permainan yang sudah lalu tidak berarti,

lalu mengapa Tehad Sang Penguasa masih merenungi?







Rasanya begitu lama sejak Hedera terakhir merasakan damai dan bahagia. Padahal ia selalu bahagia ketika Salix masih ada — apapun yang terjadi di sekitar mereka, walaupun seluruh dunia menentang mereka bersama.

Ia bertemu Salix di akhir masa remajanya, dan umur Salix hampir dua kali miliknya. Seluruh desa merasa Hedera adalah gadis yang dibodohi, dan Salix harus diusir karena menginginkan perempuan yang jauh lebih muda darinya untuk dijadikan istri. Tapi kenyataannya, sejak awal Salix menyatakan cinta padanya, Hedera tahu ikatan di antara mereka terus ada.

Tidak ada yang pernah mencintai Hedera seperti Salix mencintainya. Tidak ada yang akan bisa. Maka mereka meninggalkan semuanya yang menentang mereka di desa: yang menyayangi mereka, yang membenci mereka, semua harta benda, semua status pekerjaan... lalu memulai hidup baru, di tengah hutan.

Karena tentangan tetua, mereka tidak pernah benar-benar menikah. Tapi suatu pagi sepulang dari kota, Salix membangunkan Hedera, memintanya membasuh mukanya, kemudian membawanya ke tepi sebuah jurang.


Friday, June 3, 2011

Lophelia (FINAL VERSION)

Ini adalah versi final dari cerita yang kukirim untuk ajang Fantasy Fiesta 2011 yang kubicarakan di post-post sebelumnya. Bergabung di lapak resminya untuk meramaikan Fantasy Fiesta. :)

------------------------

Lophelia


Pertama kali aku melihat Lophelia, ia sudah hampir meninggalkanku selamanya.
Kepalanya terkulai ke samping, helaian-helaian rambut pirang kusam lekat ke keningnya. Napasnya hampir tidak ada, begitu pula dengan jiwanya. Siapa dia, hingga aku harus peduli? Namun tubuhnya terbaring di sana, menghalangi satu-satunya jalan setapak ke arah desa yang kutuju.
Ia tidak membuka kelopak matanya, namun bibirnya yang pecah-pecah dan kering mulai menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Telingaku tidak bisa menangkap bisikan sunyi yang ia utarakan.
Setelah kekalahan dalam perang dengan kerajaan seberang, disusul kudeta dari dalam, kesulitan tambahan apa lagi yang aku perlukan? Aku tidak punya lagi istana untuk aku tinggali, takhta untuk aku duduki, mahkota yang menghiasi kepalaku. Yang tersisa, hanya gunung dan hutan untuk menyembunyikan diri, jenderal-jenderal pengkhianat yang menginginkanku mati, dan badan lemah bersimbah darah menemani.
Tapi aku tetap meraih kantung air minumku, menuangkannya ke dalam bibirnya. Kemudian ia berbisik, suaranya adalah suara termerdu yang pernah kudengar, memiliki notasi-notasi indah yang tidak cocok dengan rintihannya.
“Biarkan aku mati,” pintanya.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...