Tuesday, January 19, 2010

Alergi

Dengan post ini bukan berarti aku bilang kalau semua dokter di Indonesia itu ceroboh, dan tentu saja selama 17 tahun hidupku ini sudah tidak terhitung waktu aku tertolong oleh dokter-dokter di Indonesia. Post ini hanya sekedar curhat.

Aku ingin share --- sebagai remaja yang diberi genetik yang kurang baik pada kulitnya, seperti hampir semua remaja normal lainnya, aku jerawatan. Aku udah melewati banyak perjuangan dan keadaan itu sendiri udah membangun mentalku sedari kecil: untuk terus mengangkat wajah apapun yang terjadi. Mungkin itu adalah salah satu hal yang membuat rasa percaya diriku bisa sedalam sekarang ini. Di sisi lain aku sendiri tidak pernah berhenti mencari solusi dari permasalahan.

Aku mengunjungi banyak dokter dermatologi, dan setelah bertahun-tahun pengalaman, aku mulai sadar kalau mereka semua ngasih obat yang hampir sama: Isotretinoin. Di lain itu tentu saja sudah tidak terhitung obat krim dan home remedy yang pernah kucoba, tapi one that actually works amazingly well was isotretinoin. Tentu saja, pada awalnya aku tidak tahu kalau itu isotretinoin.

"Ada efek sampingnya, dok?" kutanya. "Makan obat ini udah lama dan terus-terusan."

"Nggak kok. Pokoknya kalau lagi hamil ga boleh makan obat ini. Tapi kalau kamu sih nggak apa-apa. Minum aja yang banyak."

Baru kutahu beberapa saat setelahnya, setelah aku berhenti makan isotretinoin kalau obat itu punya banyak sekali side effects. Di luar negeri, dokter-dokter ngasih isotretinoin (atau lebih beken dengan sebutan Accutane di USA) kalau udah bener-bener last resort, dan untuk minum obat itu pun perlu ngejalanin dua tes kehamilan dan tes lainnya.

Kini aku udah berhenti makan isotretinoin yang ajaib itu, dan sebagai gantinya menggunakan regimen dari Acne.org. Really, it works.... Bukan, aku nggak dibayar apa-apa sama acne.org. Acne.org sendiri adalah organisasi non-profit, di websitenya saja nggak support iklan. Aku juga tahu kenyataan bahwa isotretinoin itu berbahaya dan punya banyak side effects dari sana.

Yang membuat aku agak menyesal adalah, kenapa dokter di sini tidak bersedia menjelaskan dengan jelas konsekuensi jika aku makan obat itu apa, apa gunanya, bahkan apa namanya (selama ini aku nggak pernah nanya nama obat itu apa, di pilnya sendiri nggak ada namanya, baru terakhir-terakhir aku baru sadar namanya isotretinoin). Sejak dua tahun terakhir kulitku jadi lebih mudah memerah kalau terkena matahari, dan aku juga dapet alergi walau sekarang sudah jauh lebih baik. Aku nggak tahu apa itu karena isotretinoin.

Hal itu nggak berlaku hanya untuk dokter kulit saja. Bahkan ayahku yang sekarang sudah terbiasa menggunakan google jadi sering mengecek obat-obat yang dia makan di internet. Terkadang ada dokter yang tidak bersedia menjelaskan isi obat-obat tersebut, bahkan bilang tidak mengandung antibiotik waktu obat-obat tersebut mengandung.

Selain ketidaksediaan untuk terbuka tentang obat, hal lain yang menggangguku adalah prosedur umum di mana seharusnya dokter bertanya sebelum melakukan apapun, "Alergi obat apa?" terkadang dilewatkan.

Aku berharap di masa yang akan datang para dokter di Indonesia bisa lebih terbuka dan menjelaskan sejelas-jelasnya tentang obat yang mereka berikan pada pasien. Bukankah mereka juga ikut bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada pasien mereka?

Peace,

Fenny

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...